Struktur Naskah Dramatik Film KKN Di Desa Penari

Oleh : Jun Latif (CEO Rajasua Production)

Film KKN Di Desa Penari adalah film yang bergenre horor yang dirilis tahun 2022 menampilkan bebarapa karakter yang sangat kuat dan semua konflik tidak lepas dari aroma mistis dan penuh dengan adegan yang menampilkan dunia lain diluar nalar dan irrasional. Penulis mencoba membedah struktur naskah dramatik film ini tentunya dengan sangat terbatas dan menggunakan pendekatan teori Brechtian yang dicetuskan oleh Bertolt Brecht.

Fase exposition : Diawali dengan perjalanan menuju ke Desa Penari selanjutnya diterima oleh pemimpin Desa yang bernama Pak Prabu. Beliau memperkenalkan lingkungan Desa Penari ke seluruh peserta KKN. Beberapa tempat yang dijadikan simbol oleh masyarakat setempat juga diperkenalkan. Misan kuburan yang dibalut dengan kain hitam, lokasi yang diaanggap tabu untuk dikunjungi seperti tapak tilas dan sebuah rumah yang mereka namakan Rumah Sinden. Tentu saja hal ini merupakan sesuatu ang sulit dinalar dan tidak dipercaya oleh para peserta KKN.

Film KKN Di Desa Penari
Struktur Naskah Dramatik Film KKN Di Desa Penari
Oleh : Jun Latif (CEO Rajasua Production)

Fase inciting action : Nur, salah seorang peserta KKN dari awal sudah menangkap ada yang janggal di Desa Penari, dan menghantarkan dia pada rasa penasaran. Rasa penasaran semakin menguat setelah dia melihat ada sejenis hantu ang selalu mengikutinya. Kejadian itu ditanyakan ke Pak Prabu pemimpin di desa tersebut dan Si Mbah tokoh supranatural di Desa Penari. Dari sinilah petualangan horror dimulai. Malamnya salah seorang teman mereka yang bernama Widya didapati sedang menari yang membuat teman temannya merasa heran, dan mulai merasakaan adanya kejanggalan. Petualangan yang bernuansa horror terus berlanjut, ketika mereka berada di lokasi kegiatan, Bimo dan Ayu berjalan meleati garis merah menuju rumah sinden yang sebelumnya oleh Pak Prabu dilarang untuk dikunjungi (melewati batas garis merah).

Anton dan salah seorang teman sedang menikmati suasana desa berkeliling untuk membeli peralatan proker dengan menggunakan sepeda motor yang dipinjam ke Pak Prabu. Sampai ke desa tetangga dan harus kembali ke Desa Penari pada waktu malam hari. Sebelumnya sudah diingatkan oleh salah seorang penjual roti gembong di desa sebelah agar tidak kembali pada malam hari. Ditengah perjalanan, mereka berdua mulai memasuki petualangan horror, bertemu dengan salah seorang yang mengajak mereka mampir di salah satu tempat acara, sementara Nur juga seperti dirasuki oleh roh halus. Satu persatu peserta KKN Desa Penari mengalami pengaalaman aneh yang berbau mistis.

Paling parah, Widya mengalami kejadiaan beruntun yang janggal hingga membuat teman temannya semaakin heran.

Fase Complication : Keingintahuan Nur memuncak sehingga mengajak Mbah melakukan rtual membuka mata batin dengan menyembelih seekor ayam jantan di suatu tempat. Benar saja Nur melihat secara langsung penampakan penghuni makhluk halus yang ada di desa tersebut. Di sisi lain Widya yang bertingkah aneh di tempat mereka tinggal diberi air minum, dan berubah menjadi rambut. Widya yang ditinggalkan sendiri di rumaah lagi lagi mengalami kejadian aneh dan mistis didatangi oleh penunggu yang selama ini melindungi Nur, memberitahu tetang kejadian yang yang menimpa dua seorang temannya yang disebut membawa petaka di Desa Penari.

Fase Crisis : Mereka merasakan keanehan dan kejanggalan dengan menghilangnya Ayu, sementara Nur masih melihat Bimo makan malam bersama mereka danmenyampaikan bahwa Ayu saat ini berada di Rumaht Sinden. Malam harinya Widya seperti terbawa ke suatu tempat yang dikenal sebagai lokasi terlarang melewati garis merah tersebut. Dari kejauhan Widya melihat sosok Ayu yang sedang menari di Rumah Sinden, sementara Bimo sedang mandi di kolam yang dipenuhi ular di sekelilingnya.

Fase Climax :Konflik bernuansa mistis memuncak ketikka Bimo dan Ayu terkapar tak bernyawa dikelilingi kawan kawannya di rumah yang menjadi tempat tinggal mereka. Disinilah terkuak apa yang sebenaarnya terjadi dengan Ayu dan Bimo. Mereka berdua telah melewati dua pantangan yaitu melewati Tapak Tilas dan terjebak angkara murka dengan melakukan perbuatan zinah di Rumah Sinden. Kini Ayu dan Bimo telah tiada, dan Si Mbah menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka berdua ; “Koncomu ngelakoni larangan sing aput, ngelakoni larangan sing nggak lumrah, ngawene menongso opo meneh bangsa demit. Koncomu iki wis ngelewati tapak tilas, dan ngelakoni hoho hihe nang kene sinden. Bimo ambe Ayu saiki kudu nanggung opo sing dilakoni, “. Pak Prabu kembali menegaskan ; “Bukankan saya sudah melarang kalian ke sana!!!” Tangis dan penyesalan teman teman Bimo daan Ayu sudah tidak berarti lagi, kedua temannya kini telah tiada karena melakukan pantangan dan norma yang berlaku di Desa Penari

Fase Resolution : Mbah menawarkan janji untuk mengembalikan mereka : “Mene iso tak cobae ngomong apik api’an, wedih ku koncomu ora iso balik urip urip”. Pak Prabu kemudian menyampaikan agar Bimo dan Ayu tinggal untuk sementara di Desa Penari untuk proses penyembuhan dan teman teman yang lain dijemput untuk kembali ke kota. Mereka pun kemudian kembali ke kota tanpa bimo dan ayu.

Fase Conclusion : Seperti yang disampaikan Pak Prabu saat mereka pulang ; “ Anak anak ingat, janganlah kalian melanggar norma dan adat istiadat di desa orang”.

Dan faktanya Bimo dan Ayu tidak pernah kembali, mereka yang masih hidup merasakan arti dari cinta dan kesetiaan diantara mereka. Tapi mereka tetap tegar untuk menghapus keraguan dan memilih terus berjalan walaupun merasakan betapa pahitnya kesabaran dan betapa menyesakkan kehilangan.

Apik tenan………..

Leave a Reply

Your email address will not be published.