oleh

HASRAT BERKUASA ATAU MENGABDI

-Opini-32 views

Oleh : Hasriani – Mahasiswa Prodi PBSI UNSA

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Peta politik disemua daerah di Indonesia,termasuk di Maluku utra lagi memanas.semua orang(kandidat,tim sukses,tim relawan)bergiat berdasarkan kiat-kiatdari berdasarkan kandidatpun di keluarkan.pokoknya semua jurus harus di gunakan,guna memenangkan kompetisi yang ada.sekarang kalau di Tanya kepada setiap tim sukses maupun tim relawan,semuanya dengan penuh keyakinan 100% member jawaban bahwa kandidat yang merekadukung,pasti yang akan memenangkan jalannya kompetisipada 9 desember 2020 ini.lepas dari keyakinan seperti itu,ada hal mendasar yang dapat di pertanyakan kepada para setiap kandidat,perihal keterpanggilan mereka untuk maju dan mencalonkan dir sebagai pemimpin di daerahnya masing-masing.apakah keterpanggilan itu adalah panggilan untuk mengejar ambisiuntuk mengabdi? Sebagai rakyat (konstituen), bagaimana kita dapat mengetahui hati nurani para kandidat, bahwa sesungguhnya, panggilannya adalah untuk mengabdi kepada bangsa dan Negara serta pada rakyat, bukan pada ambisi kepentingan untuk berkuasa agar merauk keuntungan dirinya dan kelompoknya atau golongannya semata-mata tentu saja para kandidat yang mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin daerah, sudah dapat di pastikan berasal dari tokoh-tokoh masyarakat(public figure)yang tidak di ragukan lagi ketokohan mereka.akan tetapi,tidak dapat di pungkiri bahwa ketokohan seseorang itu dapat menjamin bahwa yang bersangkutan juga bisa menjadi seorang pemimpin yang handal,atau pemimpin yang baik.

Kita ambil contoh,dari beberapa public figure di Negara ini,ketika mereka berada pada posisi sebagai seorang pemimpin,ternya mereka menjadi orang yang korup.makanya,ada yang mengatakan bahwa untuk menguji seseorang,apakah dia adalah orang yang baik atau tidak,berikanlah ia kekuasaan .fakta membuktikan,ada banyak orang baik,yang berubah menjadi jahat(korup)ketika di pundaknya sudah ada yang namanya kekuasaan.dengan kata lain,wajar kekuasaan bsa mengubah seseorang dari yang baik menjadi tidak baik dan jahat.ada NICOLLO MACHIAVELLI,yang mengatakan bahwa watak kekuasaan yang paling baik adalah perpaduan antara watak singa dan rubah.mengapa watak singa dan rubah harus menjadi watak dari kekuasaan? Menurut MACHIAVELLI ,singa memang di juluki sebagai raja hutan,sebab kekuatanya(otot) tidak dapat di ragukan lagi.akan tetapi singa adalah binatang yang bodh.,ia tidak dapat mengetahui kalau ada orang memasang perangkap kepadanya Sehingga kekuatanyaitu,tidak dapat menolong dirinys untuk lepas dari perangkap yang ada.sebaliknya rubah,adalah binatang yang tidak kuatsecara fisik(otot) tetapi rubah itu cerdik(licik),ia dapat mengetahui,jikalau ada orang yang memangsa jerat /perangkap bagi dirinya,sehingga ia bisa lolos.jadi kedua kekuatan yang ada itu,baik singa maupun rubah harus dimiliki oleh seorang penguasa.

Bagaiman dengan profil para kandidat yang ada sekarang ini, apakah jelas terlihat ataukah tersamar, watak singa dan rubah pada diri mereka? Cara mengenalinya,gampang sekali, lihat sepak terjang mereka selama ini,ketika mereka masih menjadi tokoh masyarakat.sikap dan perilaku mereka jelas terlihat,siapa sebenarnya mereka itu.apa-apa saja yang telah merekaperbuat,dan apakah yang mereka perbuat ituadalah sesuatu yang mendatangkan damai,sejahtera,ketenangan,kenyamanan bagi masyarakat ,ataukah jangan-jangan sepak terjang mereka selama ini menyisahkan banyak masalah dalam kehidupan bersama sebagai satu komunitas dalam masyarakat.cara lain untuk mengenal karakter dari setiapprofil figure yang ada,perhatikan(dengar,lihat dan kecap) dengan baik, setiap isu yang mereka bangun dalam masa-masa kampanye yang di gelar oleh setiap figure yang ada. Jika isi kampanye mereka adalah suka menjelek-jelekkan pimpinan daerah yang baru berlalu, menjelek-jelekkan figure lain, itu pertanda bahwa figure tersebut, adalah calon pimpinan yang kekanak-kanakan, bukan seorang pemimpin yang dewasa. Begitu juga, bila yang dikampanyekan itu adalah sesuatu yang masuk akal, maka yang bersangkutan adalah seorang pemimpin yang omong kosong. Ada kandidat yang emosional, semangatnya berapi-api, baik pahlawanyang berdiri dengan segudang janji untuk memperjuangkan rakyat yang selama ini dinilai tersakiti dan terzalimi. Sedangkan kandidat yang lain bermain lebih halus, tidak terpramental, santun dan penuh wibawa, mencari dukungan warga masyarakat.

Baca juga:  Dromologi Layanan Pembelajaran: Perlukah “Sekolah”?

Ada juga yang tampil kontrovosional dan provokatif, dengan segadang dengan segudang hujatan kepada para pesaingnya. Apapun yang kandidat dan tim sukses lakukan, semuanya hanya dan demi mencari dukungan dari warga yang punya hak pilih. Dari varian gerak dan gaya selama ini yang dipertontonkan oleh para kandidat bersama tim suksesnya, paling tidak sudah mulai bisa berbicara, kira-kira kandidat manakah yang benar-benar bisa menjadi pemimpin yang baik, yang siap mengabdi, dan bersedia melayani seluruh kepentingan rakyat/masyarakat yang ada. Akan tetapi, jangan kita melupakan satu hal yang penting bahwa terkadang untuk mendapatkan sesuatu, orang rela melakukan apa saja, asalkan yang didamkan itu didapati. Kita semua tentu ingat akan ungkapan “serigala berbulu domba.” Ungkapan ini, mulai mengingatkan kita, bahwa tidak semua orang itu tulus, jujur dan baik hati. Termasuk mereka yang sekarang mencalonkan diri sebagai pemimpin.

Memang ada pemimpin yang benar-benar adalah orang baik, jujur dan tulus. Tetapi ada juga calon pemimpin dan pemimpin yang memiliki karakter atau moralitas yang tidak baik. Bagaimana kita dapat mengenal calon pemimpin yang tidak baik itu? Sangat sulit, sebab orang-orang seperti itu sangat pandai menutupi segala ambisi dan kebusukan hati mereka, layaknya seekor seekor domba yang baik. Padahal hati mereka, tidak ubah, layaknya serigala lapar. Penyamaran mereka sangat sempurna. Mereka berteman dengan kita, mereka makan dan minum bersama kita. Jadi butuh ketelitian, kecermatan dan kepekaan tingkat tinggi untuk dapat mengenal, para serigala yang ada diantara pada domba.

Sehingga kita tidak tertipu atau diperdayai oleh mereka. Memang sangat mengherankan, ada orang-orang (baca:rakyat ) yang sudah ditipu berulang kali oleh para kandidat yang berpenampilan seperti domba, padahal sesungguhnya adalah serigala yang jahat. Mengapa bisa begitu ? hal ini terkait dengan apa yang kita sebut ketidak berdayaan. Para pemimpin yang berkarakter serigala, akan membiarkan rakyatnya untuk terus berada dalam ketidak berdayaan, karena kebodohan dan kemiskinan.

Baca juga:  APAKAH PARTAI POLITIK TELAH BEKERJA SEMAKSIMAL MUNGKIN UNTUK INDONESIA?

Sehingga mereka selamnaya menjadi domba yang tidak berdaya, makanya terus dan terus menjadi sasaran empuk, dari serigala, pada moment pemilu kada. Jika rakyat yang miskin dan bodoh diberdayakan dan dicerdaskan, maka akan sulit untuk membodohi mereka lagi. Moment kampanye dan debat publik, tidak cukup untuk menguliti sang serigala lapar dan jahat. Tapi bertampang domba yang tulus.

Sebenarnya diera digital ini, adalah saat yang tepat untuk saling berbagi informasi (asalkan jangan hoaks), perihal sepak terjang calon pemimpin bertampang serigala namun berhati domba, ketimbang bertampang domba tapi berhati serigala yang jahat. Memang untuk hal itu, butuh keberanian. Semoga ada yang berani melakukan hal itu.

Sebetulnya kekuasaan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang jahat atau salah pada dirinya. Kekuasaan dalam hal ini, hanyalah alat yang diberikan/dipercayakan kepada kita, baik oleh tuhan, maupun oleh rakyat. Oleh karena kuasa itu, hanyalah alat semata, maka setiap orang yang diberikan/dipercayakan/diamanatkan untuk mengelolanya, harus dikelola, dikendalikan dan dipergunakan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya untuk mengusahakan dan meningkatkan kesejahteraan bersama, yakni kesejahteraan seluruh rakyat. Kekuasaan yang tidak dipergunakan untuk melayani atau mengabdi, maka distu kekuasaan akan menampakan wajah yang tidak wajar lagi, yakni berwajah abu-abu. Wajah yang sulit dipegang segala janji manis yang diobral pada saat kampanye. Sebab apa yang dijanjikan itu hanya pemanis mulut, bukan keluar dari lubuk hati yang terdalam.

Ingat ambisi berkuasa untuk kekuasaan itu sendiri hanya akan mendatangkan kekuasaan yang menindan manusia lain; kekuasaan yang diperoleh dengan cara dan motivasi yang lain daripada untuk mengabdi, hanya akan melahirkan kekuasaan yang demonis dan bak monster yang siap merusak dan menghancurkan orang lain/rakyat. Dan karena itu, bagi pemimpin yang hanya mengejar ambisi untuk berkuasa, tidak akan merasa puas dengan segala yang didapat. Sehingga cepat atau lambat, pemimpin seperti itu, akan ditinggalkan oleh para konstituennya. Percaya atau tidak, begitulah kenyataannya. (KS)

Artikel di atas diterbitkan untuk memenuhi tugas kuliah penulis. Artikel ini sepenuhnya tanggungjawab penulis.