oleh

 TANTANGAN DAN SOLUSI GURU TAMAN KANAK – KANAK MENGHADAPI PEMBELAJARAN JARAK JAUH PADA MASA PANDEMI  

-Opini-85 views

Olh : Ni Made Sani Nim : 859136543

Masa pandemi atau biasa yang disebut pada masa wabah penyakit menular. Nah, pada masa ini wabah penyakit ini biasa disebut dengan virus corona maupun covid-19. Datangnya wabah penyakit ini membuat semua kegiatan sehari-hari yang dilakukan mendadak lumpuh dan tidak ada aktivitas sama sekali di luar rumah, termasuk di bidang perekonomian dan pendidikan. Perekonomian dunia pun mengalami defisit yang sangat tajam dan hampir berada di ambang kemiskinan, ini juga menyebabkan beberapa perusahaan terpaksa melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) pada karyawan-karyawannya karena keterbatasan modal untuk menggaji para karyawannya.

iklan

Bidang pendidikan pun juga turut mengalami dampak yang cukup mengerikan. Kemendikbud menghimbau untuk belajar dengan sistem online atau pembelajaran jarak jauh. Hal ini cukup membuat para pendidik kewalahan dengan adanya sistem belajar online atau biasa yang disebut sistem daring. Terutama pada jenjang pendidikan anak usia dini. Guru Taman Kanak – Kanak harus ekstra memberikan pembelajaran sistem daring ini untuk anak-anak didiknya. Ini menjadikan tantangan guru Taman Kanak – Kanak untuk lebih berkreativitas dalam mengajarkan anak-anak didiknya lebih optimal. Guru Taman Kanak – Kanak juga harus bekerja sama dengan para orangtua murid dalam hal pembelajaran jarak jauh. Adanya kerja sama dengan orangtua murid juga membantu guru Taman Kanak – Kanak memberikan pembelajaran pada anak didiknya.

Pelaksanaan sistem pembelajaran jarak jauh juga tidaklah mudah untuk dilaksanakan apalagi sistemnya semua serba dilakukan dirumah. Kondisi ini juga mempengaruhi psikilogis anak dan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya belajar karena belum melakukan pembiasaan dalam metode pembelajaran jarak jauh ini. Apalagi orang tua peserta didik yang masih awam dalam memakai aplikasi jaringan internet dan anak yang gampang berubah pikiran dan suasana hatinya. Hal ini juga menjadi tantangan bagi guru Taman Kanak – Kanak untuk mencari solusinya.

Baca juga:  Pengusaha dan Partai Politik Kabupaten Sumbawa

Berdasarkan anjuran Kemendikbud guru Taman Kanak – Kanak  harus menggunakan beberapa sosial media berupa Whatsapp, youtube, dan sebagainya untuk memudahkan orang tua murid mengirimkan tugas anak-anaknya melalui beberapa media sosial yang disebutkan di atas. Selain itu, Kemendikbud juga menghimbau para guru untuk tidak memberikan tugas yang memberatkan anak-anak.  Tetapi, hal ini juga membuat para orang tua murid juga harus mempunyai ponsel. Kebijakan yang diberikan ini cukup mengkhawatirkan dikarenakan tidak semua orangtua murid memiliki ponsel atau gadget yang canggih. Salah seorang guru di desa Kolam menuturkan, bahwa  pembelajaran sistem daring diubah menjadi pembelajaran tatap muka meskipun dengan durasi  hanya satu jam saja, pembelajaran tatap muka ini dilakukan dengan cara program layanan  home visit. Home visit yang dimaksud disini mengunjungi rumah peserta didik. Biasanya sekolah-sekolah Taman Kanak – Kanak yang melakukan pembelajaran home visit ini hanya dilakukan yang sekolahnya berada di perkampungan atau desa, karena jangkauannya cukup dekat dan rumah-rumah peserta didik pun  tidak berjarak jauh dari sekolah.

Adanya program layanan home visit ini memudahkan para pendidik untuk memberikan stimulasi perkembangan anak usia dini secara optimal selama masa pandemi.  Layanan home visit ini juga memberikan beragam aktivitas bermain untuk anak-anak, pendidikan dan dukungan orang tua serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan. Program ini merujuk pada lembaga pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial dan lembaga yang memberikan peluang dan dukungan untuk perkembangan anak dan orang dewasa. Home visit ini juga memfasilitasi guru untuk berkunjung ke setiap rumah yang memiliki anak dan berupaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan anak dengan mendorong perubahan pengetahuan dan perilaku para orang tua siswa.  (Dianti dan Aldilla, Jurnal Tunas Siliwangi, 5, Oktober 2019:95)

Baca juga:  Festival Pesona Moyo, Antara Pelestarian Budaya dan Peningkatan Kunjungan Wisata

Meskipun para pendidik melakukan pembelajaran home visit atau mendatangi satu persatu rumah peserta didik, mereka tetap melakukan protokol kesehatan seperti menggunakan masker dan hand sanitizer juga meminimalisir jarak antara guru dan murid. Dengan adanya pembelajaran ini anak-anak juga tidak mudah bosan untuk belajar meskipun hanya dilakukan satu jam saja. Guru juga tidak asal saja melakukan pembelajaran home visit ini, mereka juga menggunakan pembelajaran sesuai dengan tema. Jadi, kegiatan pembelajaran pun terorganisir seperti yang dilakukan di sekolah. Hal ini juga bisa kita lihat perjuangan seorang guru atau pendidik untuk memberikan ilmunya secara optimal agar peserta didik menjadi anak yang cerdas dan bijak meskipun dengan kondisi fasilitas yang seadanya untuk mengoptimalkan perkembangan anak.

Artikel di atas diterbitkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metode Pengembangan Bahasa oleh penulis.