oleh

Belajar Ditengah Pandemi: Antara Harapan Dan Tantangan

-Opini, Pendidikan-195 views

Oleh : Alpiandi Mahasiswa Semester VI Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Samawa

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Pandemi corona telah mengubah semua sendi kehidupan manusia. Segala aktivitas yang dilakukan sekarang sudah tak berjalan seperti biasnya, karena adanya larangan keluar rumah guna memutus mata rantai penyebaran virus yang telah menelan banyak korban. Konsep pendidikan juga telah berubah yang tadinya proses belajar mengajar dilakukan secara tatap muka, sekarang menggunakan metode daring dan berbagai aplikasi jejaring sosial.

iklan

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pun kemudian dilaksanakan dengan menggunakan metode daring yaitu metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet meliputi Webex, Zoom, Skype, Googlemeet, Whatsapp Group dan lain-lain, dengan tetap memperhatikan kelanjutan proses belajar mengajar dan ketercapaian mutu pembelajaran yang telah direncanakan.

Pengurangan dan Peniadaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di kampus dinilai menjadi keputusan yang tepat untuk mengurangi kontak dan mengurangi kerumunan massa (Social and Physical Distancing) pada masa pandemi Covid-19. Semua kegiatan belajar mengajar seperti perkuliahan, diskusi dan kegiatan lain yang sejenis diupayakan untuk tetap berjalan dengan melakukan berbagai penyesuaian.

Menjalani perkuliahan sebagai mahasiswa di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) memiliki banyak harapan dan tantangan. Harpannya saya sebagai mahasiswa ingin belajar dengan nyaman, lancar, sukses dan normal seperti biasanya. Namun sebaliknya banyak mahasiswa saat ini mulai mengeluhkan proses perkulihan yang dilakukan secara daring. Mulai adanya kebosanan dengan sistem ini, banyaknya tugas yang diberikan dosen, dan adanya kerinduan untuk berjumpa dengan kawan-kawan serta ingin merasakan kuliah tatap muka yang menurut mereka sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif.

Sebagai nilai positif dalam perkuliahan daring seharusnya para mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan kapan pun dan dimana pun sesuai keinginan, menghemat biaya transportasi atau pun tempat tinggal bila universitas yang dipilih berada di luar pulau atau luar negeri, tanya Jawab dalam perkuliahan bersifat fleksibel karena bisa ditanyakan lewat chatinggan baik itu kepada dosen atau teman sekelas, waktu masa perkuliahan pun biasanya lebih singkat dibandingkan perkuliahan yang bersifat konvensional. Mahasiswa bisa melihat kembali materi yang diajarkan karena materi biasanya berupa modul yang dapat didownload dan tersimpan dalam PC atau komputer. Dengan perkuliahan system daring mahasiswa dilatih untuk lebih bertanggung jawab, kreatif, dan juga mandiri. Sehingga membentuk pribadi yang lebih percaya diri.

Baca juga:  Satpol PP Sumbawa Pantau Siswa Selama Diliburkan

Namun semua itu hanya berjalan sementara saja, sebab nilai negative dari metode pembelajaran daring ini mulai bermunculan yakni sangat tergantung pada internet, bila jaringan lambat atau susah sinyal maka banyak materi yang tidak dipahami akibat terputusnya jaringan internet. Belum lagi ada mahasiswa yang daerahnya susah sinyal internet sehingga ketika sedang mengikuti perkuliahan banyak meteri kadang-kadang tidak jelas.

Sangat tergantung pada sikap displin para mahasiswa, jika kurang disiplin maka akan tertinggal pula dalam pembelajaran. Mahasiswa yang mempunyai aktivitas lain harus disiplin membagi waktu antara membuat tugas perkuliahan dan membantu pekerjaan orang tua di rumah. Dalam hal interaksi social pun menjadi sulit karena terbiasa sendiri. Perangkat komputer atau gadget pun memiliki harga cukup mahal, sehingga program kuliah ini baru bisa di akses oleh kalangan tertentu. Tidak hanya itu banyak problem lain, terutama dari segi kuota internet. Perkuliahan daring memanfaatkan beberapa via aplikasi yang membutuhkan begitu banyak kuota bahkan untuk sekali meeting di Zoom bisa menghabiskan 1,5 GB lebih untuk satu mata kuliah. Bayangkan jika dalam satu minggu semua mata kuliah melakukan meeting pasti sangat sangatlah boros pemakaian kuota internet.

Baca juga:  Mahasiswa Baru UNSA Diberi Pemahaman Bela Negara

Begitu banyak tantangan yang harus dilewati selama pandemi ini. Dalam beberapa diskusi, banyak pemerhati pendidikan menyebutkan bahwa kuliah daring memang tidak efektif, selain membutuhkan biaya banyak bagi mahasiswa. Namun, di tengah pandemi Covid-19 yang menghentikan kuliah tatap muka sementara waktu, pil pahit ini harus ditelan bersama. Tak hanya bagi mahasiswa, dosen pun tidak punya banyak pilihan.

Dari banyaknya tantangan-tantangan yang ada dimasa pandemi covid ini pasti terselip harapan sebagai mahasiswa yakni dari segi metodelogi pembelajaran seperti penjelasan materi yang memadai misal berupa video edukasi agar mahasiswa lebih paham dan tidak mudah jenuh. Adanya penugasan yang proporsional dengan waktu yang cukup serta dosen harus memberikan instruksi yang jelas dan disertai contoh yang diberikan oleh dosen dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Dalam penilaian atau Assesement juga dosen harusnya dapat berlaku adil dan menghargai usaha dari para mahasiswanya.

Perkuliahan daring memakan banyak kuota untuk mengakses materi sehingga sangat perlu bantuan seperti diberikanya peringangan ataupun bantuan berupa kuota selama masa perkuliahan jarak jauh ini berlangsung agar memudahkan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan belajar mengajar. Herapan terakhir semoga kondisi pendidika di Indonesia segera membaik sehingga kita mampu kembali menempuh pendidikan dengan optimal dan efektif. (KS)

Arikel di atas dipublikasi untuk memenuhi tugas tugas tehnik penulisan artikel dan feature oleh penulis