oleh

Pasarku Sayang Pasarku Malang

Oleh : Diah Winarni, S.Kom

Kabarsumbawa.com – Pasar tradisional menjadi episentrum penyebaran Covid-19 seiring dengan adanya temuan kasus setiap hari. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menyebutkan kasus positif Covid-19 yang ditemukan di pasar tradisional hingga Jumat, 19 Juni, sebanyak 701 kasus. Hal ini diketahui setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan masif mulai dari rapid test hingga swab test terhadap para pedagang.

“Sebelumnya terjadi kasus positif Covid-19 di pasar sebanyak 573 kasus, bertambah 128 sehingga total kasus positif Covid-19 di pasar adalah 701 dan yang meninggal 32 orang,” ujar Dimas Hermadiyansyah, Ketua SIGAP Covid-19 Ikappi, Sabtu (20/6). (merdeka.com)
Kondisi inilah yang ditakutkan sejumlah pihak, bahwa lengahnya masyarakat dimasa transisi ini merupakan petaka baru, yaitu klaster baru penularan Covid-19 di dalam pasar terutama para pedagang pasar. Kurang disiplinnya masyarakat, serta ketidaksiapan pemerintah daerah dalam membenahi tata kelola pasar tradisional selama PSBB transisi ini. Harusnya semua pihak berupaya disiplin mengikuti aturan protokoler Covid-19. Urusan perut dan nafkah keluarga menjadi alasan utama atas keputusan para pedagang pasar melakukan aktifitas jual beli. Sekalipun kondisinya masih dalam batas mengkhawatirkan.

Sering terlihat antara pembeli dan penjual tidak memakai masker dan membawa hand sanitizer, semua terlihat seakan biasa saja, sangat mengkhawatirkan. Tingkat kedisiplinan sebagian masyarakat yang rendah hingga abainya terhadap kesehatan diri dan orang lain menjadi tugas satuan gugus Covid-19 untuk bertindak disiplin kepada masyarakat.

Baca juga:  Remaja di Perbudak oleh Game Online

Pemerintah daerah dan pihak terkait berkewajiban mengatur tata kelola pasar untuk menghindari berkurumunnya orang di pasar dalam jangka waktu yang lama. Mengatur jarak antar penjual serta pemberian sangsi edukasi kepada masyarakat agar tetap menjaga dirinya dan juga orang lain agar penularan virus Corona ini bisa diminimalisir.
Negara seharusnya hadir untuk menjawab segala permasalahan umat, apalagi dalam kondisi yang sangat sulit, terutama saat pandemi ini. Karena pada hakekatnya semua orang butuh makan dan segala keperluan hidup, hanya saja jika tidak disediakan oleh negara akhirnya mereka harus mengusahakannya sendiri, dan resikonya mereka harus bertemu banyak orang salah satunya pasar.

Islam hadir dengan aturan yang lengkap dan sempurna, karena datang langsung dari Allah SWT. Sehingga apapun masalahnya pasti bisa diselesaikan dan sesuai dengan fitrah manusia. Karena sejatinya di dalam ketentuan Islam, kebutuhan pokok rakyat yaitu sandang pangan dan papan merupakan kewajiban negara untuk menyiapkannya tanpa memungut sepeserpun uang rakyat. Penguasa tidak boleh berlepas tangan dari penunaian kewajiban tersebut. Mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban ini di akhirat. Seperti sabda Nabi SAW :
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari).

Baca juga:  Tinjauan terhadap Potensi dan Tawaran Solutif

Dalam masalah ini peran penguasa sangat besar, tanggung jawab ini berada di pundaknya. Kelak ia akan ditanya tentangnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Imam (waliyul amri) yang memerintah manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang rakyatnya.” [1]

Jangan sampai ada seorang rakyatnya yang terlantar apalagi mati kelaparan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Khulafâur Râsyidîn sebagai pemimpin telah memberikan teladan yang baik dalam menyejahterakan rakyat.

iklan bkbpp

Komentar

News Feed