oleh

37 Desa Jadi Prioritas Penanganan Stunting di Sumbawa

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Pemerintah Kabupaten Sumbawa, menetapkan 37 Desa menjadi prioritas penanganan Stunting. Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Sumbawa Nomor 859 Tahun 2020 Tentang Penetapan Desa Prioritas Percepatan Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Melalui Intervensi Gizi Sensitif, dan Gizi Spesifik di Kabupaten Sumbawa.

37 Desa tersebut tersebar di 13 Kecamatan. Kecamatan Orong Telu terdiri dari Desa Mungkin, Senawang, Sebeok, dan Kelawis. Kecamatan Rhee terdiri dari Desa Luk, Rhee, Rhee Loka, dan Sampe. Kecamatan Lantung yakni Desa Aikmual, dan Sepukur. Kecamatan Ropang yakni Desa Ranan.

Kemudian Kecamatan Moyo Utara terdiri dari Desa Pungkit, dan Penyaring. Kecamatan Utan yakni Desa Motong, Orong Bawa, Jorok, Pukat, Setoe Berang, Sebedo, dan Labuhan Bajo. Kecamatan Labangka yakni Desa Jaya Makmur, Suka Damai, dan Labangka.

Selanjutnya, Kecamatan Labuhan Badas yakni Desa Bajo Medang, Sebotok, Labuhan Aji, Labuhan Sumbawa, Karang Dima, dan Labuhan Badas. Kecamatan Unter Iwes yakni Desa Pelat. Kecamatan Marong Desa Maronge. Kecamatan Tarano yakni Deda Labuhan Jambu, dan Mata. Kecamatan Moyo Hilir yakni Desa Serading dan Berare. Terkahir Kecamatan Moyo Hulu yakni Desa Maman dan Sempe.

Bupati Sumbawa, H. M Husni Djibril, B.Sc., menyampaikan, sejak tahun 2013-2018, angka prevalensi stunting di Kabupaten Sumbawa tergolong tinggi. Hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan angka stunting mencapai 37,2%. Kemudian berdasarkan hasil survey pemantauan gizi tahun 2017, angka stunting di kabupaten sumbawa menempati urutan pertama tertinggi dari 10 Kabupaten/Kota lain di NTB sebanyak 41,82%. Dan dari hasil riskesdas tahun 2018, kejadian stunting di Kabupaten Sumbawa mengalami penurunan sebesar 10% menjadi 31,53%.

Baca juga:  Akan Ada Inspeksi, Pekerja Konstruksi Mesti Terapkan Standrt K3

“Berdasarkan data tersebut, maka percepatan penanganan stunting menjadi salah satu fokus progam di bidang kesehatan maupun sektor lainnya untuk mengantisipasi kondisi gizi kronis yang mengakibatkan anak tumbuh dengan kondisi yang tidak maksimal,” kata Bupati saat membuka secara resmi Rembuk Aksi Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Kabupaten Tahun 2020 di Aula H. Madilaoe ADT Lantai 3 Kantor Bupati, Kamis (25/06/2020).

Menurut Bupati, terdapat dua solusi yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan stunting, yaitu dengan intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik diarahkan untuk mengatasi penyebab langsung masalah stunting. Sedangkan intervensi sensitif diarahkan untuk mengatasi penyebab tidak langsung yang menjadi akar masalah serta dampak jangka panjangnya.

Bupati berharap, ,elalui pertemuan rembuk stunting ini, dapat menghasilkan komitmen bersama untuk percepatan penanganan dan penurunan stunting yang menjadi dasar gerakan penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa melalui integrasi program/kegiatan yang dilakukan antar perangkat daerah, penanggungjawab layanan dan partisipasi masyarakat sehingga penurunan stunting di Kabupaten Sumbawa dapat terwujud.

Baca juga:  Update 20 April 2020, Positif Covid-19 NTB 93 Orang

“Ini merupakan tanggung jawab bersama, karena stunting tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan badan anak, namun juga pertumbuhan cara berpikir, bahkan dewasa nanti bisa mempengaruhi potensi generasi penerus dalam berkarya dan bekerja, sehingga berdampak pada perekonomian dan kemajuan daerah di masa depan dan dapat bersinergi guna menghasilkan solusi-solusi yang konkrit dalam mengatasi masalah stunting di daerah kita agar ke depan anak-anak kita mampu menjadi generasi penerus yang handal, baik secara fisik maupun mental, yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa ini di masa-masa yang akan datang,” pungkasnya. (KS/aly)

iklan bkbpp

Komentar

News Feed