oleh

Dromologi Layanan Pembelajaran: Perlukah “Sekolah”?

-Opini-73 views

Penulis : Juanda (S-3 Universitas Negeri Yogyakarta dan Dosen Universitas Samawa, Sumbawa)

Suara-suara tetangga mulai riuh menyambut tahun baru. Seolah-olah mengharapkan waktu segera berlalu, berlipat-lipat, kemudian berganti/berubah seperti kopi Baturotok yang makyus, tambah 2 sendok gula, lalu diaduk berubah cokelat. Begitu pula yang kiranya melanda tetangga ini. Musik-musik mulai menggema, menggetarkan langit, memekakkan telingga. Sebuah euforia yang maha dahsyat; sebuah sambutan penuh simulakra dan fantasi.
Pengharapan tetangga seola-olah berasosiasi dengan adanya perubahan layanan administrasi perkantoran, transportasi, media, dan seterusnya. Hingga awal 2000-an, Indonesia baru memasuki satu era baru, yang mana komputer dan handphone mulai akrab dengan warga bangsa. Jika sebelumnya orang-orang masih menulis dengan mesin ketik, maka era ini menawarkan satu pendekatan yang tak lazim—out of the box. Sebuah teknologi yang dapat mempercepat seluruh aktivitas kehidupan manusia. Contoh sederhana, pada keyboard komputer terdapat alfabeta, tanda baca, dan non-tanda baca. Pada poin terakhir non-tanda baca tidak ditemukan pada mesin ketik, seperti del (hapus ke kanan), backspace (hapus ke kiri), atau lebih canggih lagi tampilan windows, ditambah lagi kemampuan mendeteksi kesalahan ketikan. Begitu pula dengan mobile yang menggantikan telepon umum, yang bisa mengantri sampai berjam-jam menunggu giliran. Sekali lagi, dunia menunjukkan sedang melangkah ke depan, melesat, dan berlipat.
Pun demikian pula terjadi dalam dunia transportasi. Ketika pertama kali kuliah ke Ujung Pandang (sekarang Kota Makassar) tahun 2004, ingat betul berapa waktu yang kita butuhkan dari Empang-Bima (+8 jam), dari Bima-Makassar (+23 jam) atau sekitar 31 jam baru tiba di Kota Daeng. Angka-angka ini tak memiliki arti apa-apa, selain akumulasi semata. Namun, tenaga pikiran, adalah sumber jiwa raga manusia tak ternilai. Kini, perubahan begitu cepat, seperti beli tiket tak harus ke Kantor Perni dan agen, namun bisa dengan mudah dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Tapi melipat lautan, mempercepat kecepatan kapal belum ketemu sampai akhir tahun ini setidaknya konteks Bima-Makassar. Hal yang sama juga terjadi pada kereta api, pesawat terbang, atau yang paling ramai adalah layanan jasa transportasi ojek online.
Serupa dengan hal tersebut, media mainstream yang selama ini begitu perkasa memelekkan pembaca dan mencerdaskan kehidpan bangsa, kini pun harus memutar kepala yang mana menghadapi kenyataan percepatan layanan, ditantang oleh hadirnya media-media elektronik yang tidak membutuhkan space yang luas, tidak membutuhkan karyawan banyak, dan minim pengeluaran. Selain itu, jangan lupa betapa usaha ibu-ibu dengan memanfaatkan mobile dan aplikasi mampu meraup omset miliaran. Usaha-usaha yang tak butuh kantor. Kantornya adalah handphone, produknya ada di handphone. Produk-produk tersebut kemudian dilipat-lipat ke dalam mobile, menjadi data/nodes. Sekali lagi teknologi menunjukkan kecepatan layanan.
Sekolah dan Pembelajaran
Lalu, bagaimana “sekolah” menghadapi era baru ini? Menjawab pertanyaan ini tentu butuh permenungan yang mendalam (in-depth reflective). Kata /sekolah/ selama ini selalu segaris dengan tempat belajar peserta didik dan searah dengan tempat mengajar guru. Di mana belajar? Di mana mengajar? Semua jawabanya adalah sekolah? Di mana sekolah? Tempat ini, tempat itu, dan seterusnya. Akibatnya, sekolah harus dibenahi, diperbaiki ringan, sedang, atau berat, dll agar bagus performance selain harus memenuhi standar layanan (UU No. 20 Tahun 2003 ttg Sisdiknas). Muaranya adalah anggaran berlipat-lipat, anggaran terkuncur setiap APBN dan APBD untuk menangani sekolah. Oleh sebab itu, kata /sekolah/ perlu diberi tanda petik majemuk (“…”) yang bermakna bahwa sekolah tidak dibatasi oleh tempat.
Padahal dalam banyak literatur, syarat pembelajaran berlangsung mencakup tiga hal, yaitu: ada peserta didik, pendidik, dan materi (Tomlinson & Masuhara, 2004). Trilogi pembelajaran tersebut kita formulasikan, yaitu: 1) Apa tujuan pembelajaran? Bagaimana cara mencapai tujuan pembelajaran? 3) bagaimana cara mengetahui tercapai tujuan?
Sementara dalam pembelajaran, menjawab poin 1, 2, dan 3 adalah berkaitan dengan kompetensi yang hendak dicapai oleh peserta didik. Kompetensi tersebut adalah outcome pembelajaran, sehingga butuh cara untuk mencapainya. Dibutuhkanlah metode pembelajaran, materi, dan media. Peserta didik dan pendidik telah saling membantu untuk meraih kompetensi tersebut, namun kedua pihak belum mengetahui tercapai atau tertunda kompetensi tadi, sehingga perlu ada evaluasi pembelajaran.
Evaluasi bukan hukuman, bukan untuk menunjukkan benar-salah (putih-hitam), atau mengurangi nilai kemanusiaan peserta didik dan pendidik, melainkan sebagai alat untuk memetakan kendala dan mencari pola-pola perbaikan. Sehingga evaluasi tidak berhenti pada peserta didik, tetapi peserta didik juga boleh mengevaluasi pendidik agar sama-sama menemukan di mana “sumbatan”. Barangkali inilah maksud mencerdaskan kehidupan bangsa agar sama-sama terbuka dan memiliki semangat menuju kompetensi ideal.
Namun, untuk melaksanakan semua hal tadi, kita butuh investasi yang besar, butuh waktu, pengembangan diri, tenaga pikiran. Di sisi lain, dunia terus berkembang; ilmu pengetahuan begitu dinamis; teknologi kian melesat, yang semakin memanjakan dan mempercepat seluruh aktivitas manusia, termasuk aktivitas pembelajaran. Peserta didik dan pendidik begitu mudah berbagi, berinteraksi dan sekadar menanyakan kabar, dll Sekat-sekat yang selama ini begitu strukturalis nyaris tak berarti karena teknologi mempercepat dan mengefisienkan aktivitas. Percepatan inilah kemudian dalam kajian postmodernism disebut dromologi, yaitu ilmu yang memperlajari gelaja-gejala percepatan.
Perlukah Sekolah?
Seperti ilustrasi-ilustrasi percepatan teknologi tadi, seorang ibu mampu meraup untung dengan hanya mengandalkan mobile/ponsel, bahkan tak memiliki stand, outlet, ataupun toko. Semua itu menyatu dalam dawai, relasi bukan lagi sytemmatical atau tatap muka, dua arah, pembeli-penjual, melainkan menjalin komunikasi dan transaksi virtual. Kelihatannya bekerja dalam khayalan, tetapi nyatanya begitu banyak kisah orang sukses dengan memanfaatkan teknologi informasi. Kisah para Youtuber, food fast, dst., atau layanan seperti e-banking, e-tiket, dan masih banyak lagi.
Kopi mulai habis, sisa dua kali seruput. Suara-suara tetangga mulai sunyi, memikirkan pergantian tahun. Tahun 2019 akan segera menutup diri, tetapi tahun 2020 datang juga tantangan baru, tantangan datang silih berganti. Tantangan tersebut adalah tempat kita menuntut ilmu pengetahuan, yang berhadapan dengan kemajuan teknologi informasi.
Jika di perkuliahan, kita sering mendengar atau pernah menjadi bagian kuliah daring, yang saat ini beberapa perguruan tinggi sudah diizinkan oleh pemerintah. Atau dulu kita masih kerap mendengar kuliah long distance, jarak-jauh, tetapi pemerintah kemudian melarangnya. Namun demikian, pelarangan tersebut sepertinya perlu ditinjau kembali. Bahwa pembelajaran bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, dan siapa saja melalui virtual.
Selagi teknologi informasi mampu memberikan akses pembelajaran bagi segenap anak bangsa, kenapa kita menutup akses dan kesempatan tersebut. Pun demikian dengan sekolah, yang mana peserta didik umumnya secara psikologis berada pada fase early adult dan middle adult, yang rasa penasaran dan rasa ingin tahu begitu tinggi. Tentu kita takkan padamkan rasa ingin tahu peserta didik.
Begitu pula dengan pembelajaran. Peserta didik atau generasi milenial telah melek teknologi, bahkan lebih paham daripada pendidik, memberi pesan moral kepada pendidik atau kita semua bahwa pembelajaran yang baik haruslah sesuai dengan bakat dan minat serta kebutuhan peserta didik. Sebaliknya, pembelajaran yang tidak baik adalah pembelajaran yang tidak mempertimbangkan kebutuhan peserta didik.
Kita tidak tahu, kelak di antara peserta didik menjadi orang sangat bermanfaat bagi orang lain atau karena sering akses Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, dll merangsang nalar mereka untuk menemukan hal baru. Juga kita tidak tahu perkembangan teknologi ke depan, yang pasti adalah kemajuan. Lalu, bagaimana dengan sekolah?
Peserta didik perlu diberikan peluang untuk mendapatkan kesempatan belajar. Kesempatan belajar dibuka selebar-lebarnya. Pembelajaran bisa diakes dengan cara apa saja, tatap muka atau virtual. Dalam konteks memberikan akses dan mempercepat layanan pemerataan pembangunan indeks manusia, Human Development Index, fungsi sekolah sebagai tempat belajar atau juga tempat kursus dan perguruan tinggi menjadi semakin kecil karena peserta didik atau siapa saja dapat belajar di mana saja. Bahkan yang paling ekstrim adalah masih perlukah orang sekolah? Dengan berbagai kemudahan informasi, dengan memanfaatkan teknologi, siapapun begitu gampang mencari dan mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Cukup memiliki dawai sambil ngopi, mereka bisa belajar secara mandiri.
Selain mengurangi peran sekolah, secara sadar pula mereduksi peran pendidik. Peserta didik bisa berinteraksi dengan siapa saja, sesama rekan sekampung, sekabupaten, bahkan lintas negara. Sebuah lompatan besar. Bagaimana sebuah perusahaan yang tadinya begitu banyak pekerja, lalu tiba-tiba menciut karena adanya teknologi. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana ketika teknologi mengganti peran pendidik. Bukankah siapapun bisa belajar di mana saja tanpa ke sekolah.

iklan debat
Baca juga:  Urgensi Pendidikan Karakter di Rumah dan Sekolah