oleh

Kemarau, SDN 1 Hijrah Siram Taman Sekolah dengan Cara Unik

Sumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Siswa siswi SDN 1 Hijrah, Kecamatan Lape memiliki cara untuk agar taman-taman sekolahnya tetap terlihat asri dan hijau meski pada musim kemarau seperti saat ini.

Cara unik tersebut patut dicontoh oleh sekolah-sekolah yang juga dilanda kondisi yang sama dengan SDN I Hijrah ini. Dimana, Siswa siswa sekolah ini membawa air dari rumah menggunakan alat penampung air sederhana terbuat dari bokar dan latuk untuk menyiram tanaman.

Buah bokar atau dalam bahasa Indonesia disebut buah labu sedangkan latuk dalam bahasa Indonesia adalah bambu, bagi masyarakat Sumbawa penggunaannya sudah dikenal sejak tempo dulu oleh para nenek moyang untuk menampung air bersih yang dibawa dari sungai dan terus diwariskan secara turun temurun kepada anak cucu.

Namun, belakangan ini karena kemajuan teknologi informasi, banyak anak-anak muda milenial yang sudah tidak mengenal penggunaan benda-benda lokal karena digantikan dengan teknologi modern.

Dengan semangat mempertahankan kearifan lokal, kepala sekolah mengajak para guru dan siswa untuk kembali menggunakan benda lokal sebagai alat mengangkut air.

Hadiatollah, S.Pd SD kepala sekolah SDN 1 Hijrah dan SMP Satap Lape, Selasa (22/10/2019) mengatakan bahwa kemarau panjang dampaknya juga dirasakan di sekolahnya. Disebutkan, air sumur mengering sehingga hanya bisa dipakai oleh anak-anak untuk buang air sedangkan untuk menyiram tanaman di sekolah tidak ada air lagi.

Oleh karena itu, kepala sekolah energik ini yang dilantik 1 bulan yang lalu meminta kepada para siswanya membawa air dari rumah menggunakan latuk dan bokar.
Begitupun dengan orangtua siswa, mereka merasa senang membuat bentuk bokar dan latuk ini semenarik mungkin agar anak-anaknya senang membawa air ke sekolah.

“Anak-anak kami jadi mencintai tanaman, setiap pagi mereka datang ke sekolah mereka langsung menuangkan air ke tanaman-tanaman yang ada di taman sekolah, secara tidak langsung kegiatan membawa air ke sekolah ini menumbuhkan rasa cinta lingkungan kepada anak didik kami” katanya.

Kondisi alam menyebabkan sekolah yang terletak di kaki gunung Labaong ini melahirkan inovasi yang sangat menginspirasi. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) NTB bahwa Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Sumbawa menyebabkan sebagian kecamatan mengalami kekeringan cukup parah. Salah satu daerah yang mengalami hal itu adalah wilayah kecamatan Lape. (KS/aly)

News Feed