oleh

Hipertensi The Sillent Killers

-Kesehatan-105 views

Oleh: dr.Rachmat Suryaman, Dokter Umum di Puskesmas Moyo Hulu

kabarsumbawa.com – Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan “darah tinggi” masih menjadi salah satu penyebab utama kematian di Indonesia. Beberapa gejala hipertensi yaitu pasien mengalami sakit kepala, pusing dan kelelahan. Namun gejala ini sering tidak dihiraukan oleh beberapa orang karena dianggap hanya karena kecapean.

Sehingga dari gejala yang timbul dan karena tidak ditangani atau kurangnya tindakan perawatan dapat menimbulkan komplikasi yang parah seperti missal penyakit jantung, stroke, gagal jantung hingga kematian. Karena hipertensi tidak dapat diidentifikasi dengan mudah, maka sebaiknya melakukan pemeriksaan tekanan darah minimal sekali dalam setahun untuk mendeteksi penyakit secara dini.

Klasifikasi Hipertensi menurut JNC VII

data penyakit hipertensi oleh who

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seseorang dikatakan hipertensi apabila pengukuran tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg, pada pemeriksaan berulang. Penyebab hipertensi dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu Hipertensi Pimer, dimana sekitar 90% kasus hipertensi adalah hipertensi primer.

dr.Rachmat Suryaman
dr.Rachmat Suryaman,
Dokter Umum di Puskesmas Moyo Hulu

Dikatakan hipertensi primer penyebabnya tidak diketahui(idiopatik), walaupun dikaitkan dengan kombinasi faktor gaya hidup seperti kurang bergerak dan pola makan. Sedangkan hipertensi sekunder, merupakan hipertensi yang dapat diketahui penyebabnya. Pada sekitar 5-10% penderita hipertensi penyebabnya adalah penyakit ginjal. Pada sekitar 1-2% penyebabnya adalah kelainan hormonal atau pemakaian obat tertentu.

Baca juga:  Korban Gigitan Hewan Penular Rabies Bertambah Menjadi 31 Orang

Selain itu terdapat jenis lain hipertensi yaitu Hipertensi Pulmonal dan Hipertensi pada kehamilan. Hipertensi Pulmonal ditandai dengan peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri paru-paru yang menyebabkan sesak nafas, pusing dan pingsan pada saat melakukan aktivitas.

Sedangkan hipertensi pada kehamilan ,yaitu hipertensi yang muncul pada saat hamil yang sebelumnya pasien tidak terdiagnosis hipertensi. Penyebab hipertensi dalam kehamilan sebenarnya belum jelas. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah, ada yang mengatakan karena faktor diet, tetapi ada juga yang mengatakan disebabkan oleh faktor keturunan, dan lain sebagainya.

Faktor resiko hipertensi adalah umur, jenis kelamin, riwayat keluarga, genetic, kebiasaan merokok, konsumsi garam, konsumsi lemak jenuh, penggunaan jelantah, kebiasaan konsumsi minuman beralkohol, obesitas, kurang aktivitas fisik, stress, penggunaan estrogen.

Penanganan hipertensi dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan yang sebelumnya dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. Modifikasi gaya hidup dengan membatasi asupan garam tidak lebih dari seperempat sampai setengah sendok teh (6 gram/hari), menurunkan berat badan, menghindari minuman berkafein, rokok dan minuman beralkohol. Olahraga juga dianjurkan bagi penderita hipertensi dapat berupa jalan, lari, jogging, bersepeda dengan frekuensi 3-5x dalam seminggu.

Baca juga:  Penyebaran Covid-19 di Kecamatan Alas Cukup Terkendali

Istirahat cukup, dan menghindari stress.
Makanan yang harus dihindari atau dibatasi untuk penderita hipertensi antara lain makanan yang diawetkan seperti dendeng, asinan, ikan asin, pindang, udang kering, telur asin. Makanan yang diolah dengan garam natrium seperti biscuit, crackers, keripik dan makanan kering yang asin.

Makanan dan minuman kaleng yang tinggi natrium. Bumbu-bumbu seperti kecap asin dan saso-saos lain yang umumnya tinggi natrium. Alcohol dan makanan yang mengandung alcohol seperti durian, tape dll. Makanan cepat saji yang mengandung garam natrium tinggi, lemak jenuh dan rendah serat harus dihindari.

Dengan mengetahui gejala dan faktor resiko terjadinya hipertensi diharapkan penderita dapat melakukan pencegahan dan penenganan dengan merudah gaya dan pola hidup menjadi leboh sehat ataupun rutin mengkonsumsi obat-obatan sehingga komplikasi yang dapat terjadi bisa dihindarkan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *