oleh

Spirit “Pariri Lema Bariri” Pengembangan Pariwisata KSB

Spirit “Pariri Lema Bariri”Pengembangan Pariwisata KSB

Oleh : Moh. Joemail, SST. Par., M. Par.*)

*) Dosen Tetap Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Tim Pakar Pariwisata Berkelanjutan. thegurujoe@yahoo.com

Ternyata potensi wisata yang dimiliki KSB sungguh mengagumkan dan tidak kalah saing dengan destinasi lain yang ada di NTB. Aksesibilitas (accessibility) sudah terkoneksi dengan baik antara satu destinasi dengan yang lainnya. Atraksi (attractions) wisatanya variatif, mulai dari alam yang eksotis, kuliner yang menggugah selera yang rasanya sulit untuk dilupakan “totang rasa” hingga budaya lokal yang unik. Dari aspek amenitasnya (amenity), pariwisata KSB sepertinya harus membangun akomodasi yang memiliki branding nasional dan internasional. Hal ini penting agar potensi wisata yang ada dapat berkembang dengan cepat. Berikutnya, ancillary, kelengkapan system yang mendukung aktifitas pariwisata misalnya organisasi lokal, Pokdarwis juga sudah berjalan dengan baik.

Dari keempat aspek kunci tersebut maka dari berbagai perspektif, tidak ada alasan bagi pemerintah daerah untuk tidak membangun pariwisata yang, mungkin sekarang belum menjadi leading sector bagi pembangunan tapi di masa datang dapat diduga bahwa pariwisata akan menjadi sumber penghasilan utama setelah tambang emas. Untuk itu, mindset stakeholder harus diubah. Semuanya memiliki pemahaman dan semangat yang sama yakni, “berpariwisata” sebagai solusi alternative pembangunan daerah di KSB. Lebih lanjut, paradigma pengembangan yang dapat diacu tentu yang paling tepat adalah pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
Pariwisata berkelanjutan yang memfokuskan pada tiga aspek utama (economic, social, environment sustainability) dalam implementasinya juga dipandang relevan dengan spirit “Pariri Lema Bariri”.

Aspek berkelanjutan “pariri” yang pertama adalah membereskan semua permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi pariwisata yang harus dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat di sekitar destinasi. Begitu pula dengan ‘pariri’ yang kedua, semua permasalahan sosial juga harus terpecahkan dan mampu mengangkat derajat hidup menjadi lebih baik, penciptaan lapangan kerja di sector jasa terbuka, pengangguran dan kemiskinan berkurang, dan harmonisasi kehidupan masyarakat tercipta dengan baik. Pariri selanjutnya berkaitan dengan masalah lingkungan yang menjadi ekologi dari system kepariwisataan harus dibenahi. Pun juga harus diwarat dan dijaga secara berkesinambungan agar generasi mendatang dapat mewarisinya. Ketiga aspek (ekonomi, sosial, dan lingkungan) muaranya pada satu tujuan ‘bariri’ yaitu pariwisata berkelanjutan.
Kekuatan lain yang juga dimiliki pariwisata KSB adalah semangat dari para stakeholder kunci (masyarakat, pengusaha, pemerintah, akademisi, dan media) yang harus dijaga dan ditularkan pada yang lain.

Penulis meyakini bahwa semangat ‘pariri lema bariri’ akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi pariwisata yang sedang mulai ‘bersolek’. Katakanlah, Sapta Pesona Wisata (Aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, kenangan) yang harus dikatakan belum sepenuhnya dapat diimplementasikan. Modal awal yang sangat bagus adalah keamanan dan ketertiban sudah tercipta. Kebersihan masih menjadi permasalahan terutama sampah plastic dan sampah lain di jalan raya, jalan menuju destinasi, dan fasilitas umum. Kebersihan menjadi sangat penting karena citra terbentuk melalui aspek ini. Dari sikap dan perilaku wisatawan asing, hal pertama kali yang dilihat dan dinilai adalah kebersihan toilet umum. Ketika mereka menyatakannya bersih maka kemungkinan aspek lainnya juga bersih. Selain permasalahan yang bersumber dari Sapta Pesona tersebut, komponen yang perlu mendapat pembenahan adalah manajemen dan tata kelola destinasi dan atraksi.
Enam modal alami pariwisata KSB yang bersumber dari Sapta Pesona minus bersih (aman, tertib, sejuk, indah, ramah tamah, kenangan) sesungguhnya tinggal dibudayakan saja  menjadi kebiasaan dan perilaku sehari-hari. Inti dari pariwisata dapat ditemukan pada unsur-unsur Sapta Pesona wisata. Pengalaman wisatawan sesungguhnya bersumber dan tercipta melalui hal tersebut.

Untuk dapat menciptakan pengalaman wisatawan yang berkualitas maka aspek yang harus disentuh adalah masalah sikap dan perilaku dalam menyediakan dan mengantarkan pelayanan. Dengan kata lain, SDM menjadi faktor keberhasilan dalam pelayanan. Pariwisata juga akrab disapa dengan service industry. SDM pariwisata KSB juga masih menjadi masalah yang harus segera dicarikan solusinya. Tawarannya adalah segera memromosikan pariwisata sebagai leading sector  di KSB sehingga masyarakatnya memiliki pola pikir yang sama tentang pentingnya industry jasa atau pelayanan. Lebih lanjut, tumbuh kesadaran menyuruh anaknya untuk sekolah atau kuliah di institusi pendidikan pariwisata di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram dan isntitusi pendidikan pariwisata lainnya. Itulah satu-satunya cara (diklat) pariwisata agar mampu mencetak SDM yang kompeten di bidang pariwisata.
Something to see (sesuatu yang dilihat) sebenarnya sudah banyak dan variatif (spot-spot) destinasinya terhampar mulai dari pelabuhan Tano dengan landscape-nya yang tropis, sesaat kemudian wisata perbukitan di Mantar. Tidak jauh, membentang Danau Lebo dengan pemandangannya yang menyejukkan mata. Bergeser lagi ke Pantai Kertasari dengan pemandangan alamnya yang asri (pantai, ombak, aktifitas nelayan, dan petani rumput laut). Ada juga hamparan pantai-pantai lain (Balona, Glampar, Poto Batu, dll) yang tidak kalah eksotisnya. Terus menyusuri pantai, ada satu spot yang sekarang ini sedang “melejit” sampai masuk menjadi nominasi dari Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) yaitu, Pantai Jelenga dengan alamnya yang asri terutama ombak yang bagus untuk para peselancar (surfer). Harapannya spot ini nanti mampu memenangkan ISTA dalam satu kategori dari beberapa kategori yang diperlombakan seperti tata kelola destinasi, pemanfaatan ekonomi kepada masyarakat lokal, bidang sosial-budaya, dan lingkungan maka akan menjadi starting point sekaligus “genderang” bagi pengembangan pariwisata KSB secara berkelanjutan.

Tantangan lainnya, something to do (sesuatu yang dikerjakan) wisatawan di destinasi masih dianggap kurang, padahal something to see-nya sudah tersedia banyak. Pada aspek inilah pentingnya untuk menciptakan berbagai aktifitas wisata dengan ide-ide kreatif. Hal tersebut nantinya dapat menambah masa tinggal (length of stay) wisatawan di destinasi. Potensi produk wisata kuliner di KSB sesungguhnya luar biasa. Kuliner khasnya mulai dari Singang, Sepat, Palopo, dan yang lainnya dapat dijadikan sebagai aktifitas wisatawan. Selain juga atraksi budaya yang dapat dikemas untuk menjadi pilihan aktifitas wisata lainnya. Berikutnya adalah something to buy (sesuatu yang dibeli) sebagai bukti dari aspek terakhir dari Sapta Pesona Wisata yakni, kenangan. Ini sebenarnya juga menjadi sumber ekonomi yang sangat prospek bagi masyarakat lokal jika mampu menyediakan berbagai produk (oleh-oleh) bagi wisatawan. Mulai dari pakaian adat, kuliner, dan cinderamata lainnya. Intinya bahwa kreatifitas masyarakat harus digugah. Kembali lagi bahwa pariwisata menghendaki komitmen yang kuat dari para stakeholder di daerah.

Jadi, rantai nilai pariwisata dari 3’s (something to see—something to do—something to buy) sebaik-baiknya jangan sampai terputus. Ketiga aspek kunci ini menjadi faktor keberhasilan dalam mengembangkan destinasi. Banyak destinasi yang sudah sukses parwisatanya dengan menjaga keberlanjutan pengembangannya melalui rantai 3’s tersebut. Pada konteks inilah ‘pariri lema bariri’ sebagai local genius dapat menjadi roh pengembangan pariwisata di KSB. Dan ini relevan dengan konteks dan paradigma pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainability tourism development). Semoga.(*)

News Feed