oleh

Festival Pesona Moyo, Antara Pelestarian Budaya dan Peningkatan Kunjungan Wisata

-Opini-189 views

Oleh M. Khairussari Takwa
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi semester VI Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas

KabarSumbawa.com – Festival Pesona Moyo merupakan festival tahunan yang diadakan oleh pemerintah daerah kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Festival ini dinamakan Festival Pesona Moyo karena di pulau Sumbawa terdapat sebuah pulau kecil yang mempesona dan memiliki keindahan serta nilai eksotisme yang tinggi, dibalut dengan panorama alam dan keindahan bawah laut yang memukau. Pulau tersebut bernama Pulau Moyo.

Pulau Moyo merupakan sebuah pulau yang terletak sekitar 3 KM dari lepas daratan Sumbawa. Pulau ini menjadi lebih terkenal setelah Putri Diana dari Inggris singgah untuk menghabiskan waktu liburannya.

Beberapa pesohor dunia juga pernah menghabiskan waktu liburannya di sini seperti Musisi Rock Mick Jigger, David Bowie, Rain, petenis Rusia Maria Sharapova, pemain bola David Beckam dan masih banyak lagi. Daya tarik utama dari pulau ini adalah mulai dari hutan tropis, lautnya yang indah, air terjun yang memukau, serta pemandangan bawah laut yang mempesona. Namun, salah satu yang paling diburu di Pulau Moyo adalah Air Terjun Mata Jitu yang memiliki kelebihan air terjun bertingkat dan terdapat kolam-kolam indah yang tercipta secara alamiah.

Pelestarian Kebudayaan Sumbawa
Perhelatan Festival Pesona Moyo ini mengusung kekayaan adat Sumbawa, khususnya yang berkenaan dengan tradisi dan karnaval hingga Barapan Kebo yang diselenggarakan di sawah berair. Barapan kebo merupakan salah satu permainan khas yang dimiliki masyarakat Sumbawa. Tradisi yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Sumbawa ini dilaksanakan di area sawah yang telah dipilih. Barapan kebo merupakan wujud rasa syukur masyarakat Sumbawa kepada Allah sekaligus menjadi cara untuk menggembur tanah. Selain itu barapan kebo juga menjadi penyambung silaturrahmi masyarakat Sumbawa terhadap sesama dengan berbagi kebahagiaan.

Saat diselenggarakannya barapan kebo masyarakat Sumbawa dan sekitarnya sangat antusias menyaksikan jalannya perlombaan. Semaraknya pertandingan menjadi tontonan yang sangat menarik. Apalagi area persawahan yang berlumpur kadang membuat wajah para joki menjadi hitam terkena lumpur dan ini sangat ditunggu oleh para penggemar barapan kebo karena mengundang tawa.

Selain itu, pertunjukan seni (musik dan vokal) tradisional seperti Sakeco, Rebalas lawas, dan ngumang siap memberi hiburan khas kepada para pengunjung. Sakeco merupakan salah satu bentuk seni yang bersumber dari Lawas. Sakeco dimainkan oleh dua orang pria yang merupakan pasangannya dan masing-masing memegang satu rabana. Sakeco merupakan seni yang sangat luwes dan dinamis dibandingkan dengan yang lain. Sakeco dapat dimuati oleh Lawas Nasihat (pamuji), Lawas Tau Loka, Lawas Musa-Mudi, lawas Tode yang dibuat dalam bentuk tutur (cerita naratif).

Rabalas lawas berarti saling membalas lawas. Lawas sendiri merupakan salah satu sastra lisan yang berkembang di masyarakart Sumbawa, lawas sangat erat penyatuannya dengan kehidupan sosial masyarakat, karena lawas berfungsi sebagai sarana penyaluran emosi dari interaksi dengan lingkungan. Dengan bahasa lawas orang bisa berkomunikasi dengan menyampaikan maksudnya kepada orang lain dalam berbagai lini hidup, baik itu kehidupan rumah tangga, pergaulan muda-mudi, pendidikan bahkan sosial politik. Sedangkan ngumang merupakan salah satu jenis seni vokal yang umumnya dilakukan oleh satu orang sambil mengucap lawas dengan suara lantang disertai teriakan atau pekikan sebagai pengiring, pemanis, atau daya tarik.

Selain itu, kegiatan yang lebih menarik juga adalah pacuan kuda atau main jaran. Main jaran adalah sebuah permainan tradisional yang ditumbuh kembangkan oleh masyarakat Sumbawa. Sesuai dengan namanya, yaitu “jaran” atau dalam bahasa Indonesia berarti “kuda”, dalam permainan ini para pesertanya akan beradu ketangkasan mengendalikan kuda-kuda mereka dalam sebuah arena pacuan.
Main jaran mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu adalah kerja keras dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain (joki) yang berusaha sekuat tenaga memacu kuda pacuannya agar dapat memenangkan permainan. Tanpa kerja keras mustahil dapat membuat seekor kuda bisa menjadi kuda pacu yang tangkas, gesit, dan cepat dalam berlari. Dan, nilai sportivitas tercermin dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang selama permainan berlangsung serta mau mengakui kekalahan.

Festival Pesona Moyo adalah cara untuk melestarikan budaya yang sudah ada sejak dulu agar budaya yang sudah melekat tidak pudar seiring perkembangan zaman. Budaya yang unik dan merakyat lainnya yang berlangsung selama hampir sebulan ini meliputi Pawai Budaya yang di ikuti dari kalangan stauan pendidikan sampai kalangan masyarakat umum yang menyuguhkan keanekaragaman adat istiadat Sumbawa mulai dari prosesi pernikahan adat Sumbawa seperti Barodak, Nyorong, Pangantan Nginring dan lain-lain, sampai perayaan Islam khas Sumbawa seperti Munit.

Peningkatan Kunjungan Wisata
Festival Pesona Moyo diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif serta membangkitkan seni budaya di Kabupaten Sumbawa. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif selama ini telah mampu mendongkrak perekonomian masyarakat setempat.

Menurut Zainal Abidin, S.Pd salah seorang Resepsionis di Hotel Tambora, saat di wawancara mengatakan bahwa sebanyak 600 wisatawan baik domestik maupun luar negeri tercatat mengunjungi Hotel Tambora dalam setiap event-event besar termasuk Festival Pesona Moyo pada bulan September. Bahkan Abi, sapaan akrabnya meyakini jumlah kunjungan wisatawan Kota Sumbawa dapat berpengaruh ke wisata unggulan lainnya di wilayah Nusa Tenggara Barat. Hal tersebut disebabkan oleh Pulau Sumbawa yang sangat mudah dicapai dari Lombok, NTB. Dari Bandara Lombok, kita bisa menyewa mobil menuju Pelabuhan Khayangan yang memerlukan waktu tempuh 2-3 jam. Dari pelabuhan ini, kita menumpang kapal ferry yang akan berlayar menyebrangi Selat Alas selama sekitar 2 jam menuju Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa.

Harapan saya dengan adanya Festival Pesona Moyo ini masyarakat Sumbawa tetap melestarikan kearifan lokal yang dimilikinya walaupun kebanyakan yang kita tahu bahwa generasi muda sekarang mulai lentur dari budaya yang dimilikinya karena terpengaruh dengan budaya barat di era globalisasi ini mulai dari gaya bahasa, cara berpakaian, maupun prilaku dalam kehidupannya yang mengikuti perkembangan zaman dan tidak disadari bahwa budaya yang melekat dalam masyarakat itu dilupakan atau bisa dikatakan dianggap tidak penting. Selain itu, harapan saya dengan adanya Festival Pesona Moyo mampu menjual potensi wisata Sumbawa di nasional maupun internasional. Karena Sumbawa memiliki potensi wisata yang cukup menjanjikan sebagai sumber pendapatan daerah yang tidak kalah dengan daerah lain di Nusantara. Serta dapat memberikan kebanggan terhadap masyarakat Sumbawa sendiri tentang indahnya alam dan budaya di Sumbawa..

News Feed