oleh

Hasil Survey OMI Impossible

Sumbawa Besar, kabarsumbawa.com
Survey Olat Maras Institute (OMI) yang beredar belakangan ini cukup membuat gaduh. Sebab dalam survey itu membuat persentase penetapan kursi dari semua tingkatan baik DPRD Kabupaten, Propinsi dan DPR RI. Dalam survey itu ada beberapa partai terutama di tingkat Kabupaten Sumbawa yang tidak memperoleh kursi.

Bahkan ada partai yang diperkirakan tidak mendapatkan kursi justru mengantongi persentase yang jauh melebihi partai yang diunggulkan. Tentu saja hasil survey ini membuat dua sikap. Ada yang euforia dengan hasil survey OMI karena menguntungkan caleg dan partainya, sebaliknya ada yang mengutuk. Pastinya hasil survey ini menjadi bahan “goreng-menggoreng”.

Sekretaris DPC Hanura Kabupaten Sumbawa, M Yamin SE., M.Si menilai survey OMI ngawur dan impossible. OMI sepertinya tidak bisa menjaga kepercayaan masyarakat. OMI adalah lembaga survey yang namanya sempat melambung dan populer setelah hasil surveynya nyaris sama dengan hasil perhitungan Pilgub NTB 2018 lalu. Bahkan hasil perhitungannya mengalahkan semua lembaga survey nasional. OMI sepertinya telah terninabobo dengan ketenaran dan kesuksesannya dahulu. Sehingga apapun surveynya meski “pesan sponsor” dianggap masyarakat sesuatu yang benar dan benar-benar terjadi pada 17 April mendatang. Ketika ini meleset, OMI telah ‘menjual diri” untuk jangka pendek, tapi merusak diri dalam jangka panjang. Karena lembaga survey bermodal kepercayaan. Ketika orang sudah tidak percaya, benar pun yang disampaikan oleh lembaga tersebut dianggap bohong oleh public.

Baca juga:  Komisi I : BUMdes Diharapkan Jadi Stimulan Ekonomi Pedesaan

Yamin Abe—akrab politisi Hanura yang juga Wakil Ketua DPRD Sumbawa ini mengajak masyarakat untuk membedah hasil survey dengan mengambil contoh Dapil 1 Sumbawa meliputi Kecamatan Sumbawa, Moyo Hilir dan Moyo Utara. Misalnya persentase suara PPP yang hanya 2,1 %. Jumlah DPT di Dapil I ini tercatat 64.332 orang. Paling tinggi partisipasi pemilih sekitar 72% atau 46.319 orang. Jika dikalikan dengan peroleh PPP 2,1% artinya PPP hanya mendapat 972 suara. Secara logika ini tidak masuk di akal. Sebab PPP memiliki 9 caleg dan ada juga tambahan suara partai yang jika ditotalkan mustahil hanya dapat 972 suara. Demikian dengn Hanura, dari 9 caleg plus suaar partai dari hasil survey itu hanya dapat 1.800 suara. “Ini yang saya katakan ngawur. Kami tidak tahu cara apa yang digunakan lembaga survey itu untuk menetapkan persentase ini. Mungkin lembaga ini menganggap masyarakat buta berhitung. Tolong jangan buat kegaduhan dan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal,” tukasnya.

Baca juga:  Bupati Launching Destinasi Wisata Olat Sare

Ironisnya lagi Berkarya, dan Garuda 0 persen. Padahal dua partai ini memiliki Caleg. Kecuali PSI wajar 0 persen. Demikian Partai Nasdem hanya 5,9 persen berada di bawah PAN, Golkar, PBB, dan sama jumlah dengan Perindo. Dilihat dari komposisi calegnya, Nasdem bisa jauh di atas partai-partai tersebut. Malah partai ini diunggulkan bisa meraih kursi pertama.

Selanjutnya untuk Caleg Propinsi Dapil Sumbawa—KSB. Hasil survey OMI sangat mengejutkan menempatkan M. Iqbal Caleg Demokrat berada di urutan teratas meraih 17% suara. Jika dikalikan dengan 72 persen partisipasi pemilih, Iqbal mendapat suara pribadi mencapai 39.000. Raihan ini jauh di atas Caleg incumbent maupun tokoh populer lainnya yang sudah teruji. Bahkan suara Iqbal ini mengalahkan suara H Husni Djibril B.Sc (kini Bupati) saat jadi Caleg Propinsi sekitar 21 ribu, Nurdin Ranggabarani 14.000 dan Muh min SH M.Si 13.500 suara.

Karena itu Ia menghimbau kepada OMI untuk cermat dan cerdas dalam meliris hasil survey yang sudah bertebaran dan menjadi konsumsi public. (ks/-)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *