oleh

Peran Teknologi Dalam Pembelajaran Fisika dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik

Oleh: Syarif Fitriyanto, M.Pd
(Dosen Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Samawa)

kabarsumbawa.com – Penggunaan teknologi yang semakin meningkat dalam kehidupan sehari-hari telah mendorong perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan. Bagaimana tidak? Pekerjaan yang biasanya dilakukan berhari-hari menjadi lebih singkat, ringan, dan efisien bila dalam pengerjaannya telah berbantuan teknologi. Teknologi dapat diartikan sebagai sebuah alat yang digunakan oleh seseorang atau suatu kelompok untuk memperoleh manfaat yang lebih atas alat tersebut. Hal tersebut semakna dengan definisi teknologi yang dikutip dalam situs Wikipedia, dimana teknologi diartikan sebagaikeseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.Misalnya, bagi seorang pengusaha keberadaan teknologi sangat berperan dalam upaya untuk memproduksi, mengemas, memasarkan produk yang ditawarkan, sampai dengan proses transaksi jual beli. Bagi seorang pengajar, teknologi tentunya berperan sebagai media untuk menyampaikan materi yang hendak disampaikan secara lebih mudah dan efektif.

Proses belajar mengajar harus terbangun dengan suasana yang menyenangkan, bermakna, dan ekfektif sehingga berdampak pada tingginya keterlibatan peserta didik dalam aktifitas belajar.Menghidupkan suasana belajar yang demikian, tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, butuh metode, strategi, pendekatan, dan media pengajaran yang tepat. Semakin tinggi keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran maka akan semakin baik pengaruhnya terhadap peningkatan aktifitas berpikir.Hasil penelitian Meltzer tahun 2002 yang berjudul  The Relationship between Matematics Preparation and Conceptual Learning Gains in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostic Pre Test Scoremenyebutkan bahwa salah satu penyebab kegagalan dalam pembelajaran fisika adalah lemahnya kemampuan berpikir peserta didik dalam memahami persoalan, untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk solusi matematik ataupun grafik.

Melihat kondisi tersebut, perlu disadari secara bersama-sama bahwa kemampuan berpikir setiap peserta didik dalam menyelesaikan suatu persoalan, tentu tidaklah sama. Beberapa peserta didik, mampu memahami dan memecahkan persoalan yang diberikan hanya dengan mendengarkan narasi atau dengan membaca teks yang disajikan. Namun, ada pula peserta didik yang harus membaca persolan berulangkali setelah itu baru dapat memahami pesan yang dimaksud. Memahami tentang perbedaan cara belajar otak, Edgar Dale sebagai salah seorang tokoh pendidikan Amerika telah membuat sebuah core of experience atau “kerucut pengalaman” tentang bagaimana otak bekerja atas pengalaman yang diberikan. Dalam teorinya menyebutkan bahwa, bila otak hanya menangkap informasi melalui kegiatan membaca maka hanya sekitar 10% yang dapat diingat, bila pembelajaran didominasi dengan kegiatan mendengarkan (ceramah), maka hanya sekitar 20%yang diingat oleh peserta didik dalam pembelajaran. Namun, bila dalam penyampaian informasi dibantu dengan media visual, maka otak akan merekam sekitar 90% atas pengalaman yang diberikan.

Jurnal Penelitian
Sumber: Jurnal Penelitian Vol 10 No 1 Tahun 2016,

Pengajaran fisika bukan hanya sekedar menerapkan rumus dalam soal-soal yang bersifat matematis, namun harus dilakukan melalui proses penemuan (inquiry) dan menghasilkan sebuah produk. Hal tersebut sejalan dengan pandangan Ramsey (1993) dalam tulisannya yang berjudul Reform Movement Implication Social Responsibilitybahwa,pembelajaran fisika didasarkan pada teori konstruktivis yang berpandangan bahwa belajar merupakan kegiatan membangun pengetahuan yang dilakukan sendiri berdasarkan pengalaman yang dimiliki melalui proses penemuan.Pembelajaran yang hanya menekankan pada pencapaian kemampuan merapkan rumus atau persamaan untuk menemukan jawaban atas persoalan yang diberikan dapat berdampak pada rendahnya literasi sains dan memungkinkan terjadinya miskonsepsi. Sebagaimana dijelaskan Suparno (2013) dalam tulisannya yang berjudul “Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika” bahwa miskonsepsi dapat disebabkan karena proses konstruksi pengetahuan yang tidak tepat.

Seorang guru yang profesional dapat menggunakan media teknologi berupa video simulasi, animasi, atau laboratorium virtual untuk menyampaikan materi pelajaran. Penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar diyakini dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk membangun konsep secara utuh melalui proses pengamatan dan percobaan virtual.Melalui pemanfaatan tekonologi, juga akan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peserta didik untuk mengenal, mengidentifikasi, dan menganalisis fenomena alam dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Matlin (1994) dalam bukunya yang berjudul “Cognition” telah menjabarkan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah salah satunya yaitu kemampuan mengidentifikasi masalah dan keluasan wawasan terhadap masalah yang dijumpai.

Melihat pentingnya keterlibatan dan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran, maka dalam paradigma pendidikan abad 21 seorang guru dianjurkan untuk menggunakan teknologi sebagai bagian dalam proses pembelajaran. Anjuran tersebut kemudiandirumuskan secara tegas dalam Kurikulum 2013 yang menuntutagar para pengajar wajib menggunakan media pembelajaran baik yang berbasis alat pragaan ataupun berbasis teknologi .Media berbasis information technology (IT)yang dimaksud dapat berupa video pembelajaran, video fenomena alam, gambar visual, simulasi, atau multimedia lain yang memuat materi pelajaran untuk membantu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran fisika sekolah terdapat beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran seperti, Physics Education Technology (PhET), Looger Pro, Video Tracking, dan ada masih ada lagi jenis yang lainnya.

Beberapa hasil penelitian yangmengintegrasikan teknologi sebagai bagian dalam proses pengajaran ilmu fisika menjelaskan bahwa penggunaan tekonologi dapat memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar. Sebagaimana disampaikan Jauhari, dkk. (2016) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran  Berbasis Masalah Berbantuan Media PhET Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa Kelas X SMAN 1 Gunungsari Tahun Pelajaran 2015/2016” telah memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar fisika. Peningkatan tersebut tentu merupkan dampak atas kondisi pembelajaran yang aktif dan bermutu. Dimana Arends (2013) dalam bukunya Learning to Teach menjelaskan bahwa dengan mengatur lingkungan belajar yang kondusif dan menyenangkan dapat memberikan dampak terhadap kemampuan berpikir peserta didik. Hal tersebut juga semakin menguatkan hasil penelitian sebelumnya oleh Syaifullah dan Jatmiko (2014) yang menemukan bahwa pembelajaran guided discovery dengan bantuan PhET dapat meningkatkan keaktifan peserta didik. Bahkan, hasil penelitian yang cukup baru oleh Husein, dkk. (2017) yang berjudul Pengaruh Penggunaan Multimedia Interaktif Terhadap Penguasaan Konsep dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Materi Suhu dan Kalor, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi sebagai bagian dalam pembelajaran juga dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan berpikir kritis (critcal thinking).

Melihat hasil riset tersebut, tentu dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran dapat memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar peserta didik. Penggunaan teknologi sebagai bagian dalam proses pembelajaran dapat merubah paradigma guru yang cenderung berpusat pada guru (teacher center) ke arah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center). Bila kondisi pembelajaran dapat berlangsung dengan asyik dan menyenangkan, maka lambat laun dapat merubah pandangan siswa yang sebelumnya menilai pelajaran fisika sebagai mata pelajaran paling menakutkan menjadi mata pelajaran yang paling diminati.

News Feed