by

Sampaikan Kuliah Umum di UNSA, Dirjen PDT Bawa Empat Program Lewat Sail Moyo-Tambora

Kabarsumbawa.com – Direktur Jendral Pembangunan Daerah Tertinggl, Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (PDT) membawa empat program melalui Kegiatan Sail Moyo-Tambora. Antara lain pemasaran hasil laut, pertanian, dan Tenun Sumbawa.

“Saya datang dalam rangkai Sail Moyo-Tambora. Kami selalu dapat undangan untuk pameran. Kita tidak bisa hanya pameran dengan buku. Tapi kami juga pelajari isu-isu yang ada di Sumbawa,” Kata Syasul Widodo, Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (PDT), usai menyampaikan kuliah umum di Universitas Samawa (UNSA), Sabtu (09/09)

Kedatangannya ke Sumbawa membawa beberapa tim termasuk tim pasar laut. Tim tersebut sedianya bertugas untuk melakukan pemasaran hasil laut nelayan, dan membantu untuk mendapatkan harga empat kali lipat diatas harga tengkulak.

“Saya sudah minta tanggal 11 kita diskusi bersama KKP dan nelayan. Untuk bantu jualan online, harga 4 kal lipat dari pada tengkulak,” jelasnya.

Selain itu, juga membawa program Smart Faming, untuk membantu petani meningkatkan kualitasn dan produktifitias panen khususnya jagung. “Kita punya isu jagung disini. Program ini bisa detekasi dengan sensor caura,air, tanah dan hama penyakint. Data base dikirim ke pusat, kemudian dikirim ke HP petani, sehingga dapat berikan laporan akurat,” ungkapnya, juga mengatakan, sehingga petani dapat menentukan langkah-langkah terukur untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas pertanian.

Program Smart Farming, telah diterapkan di Yogyakarta sebagai daerah percontohan. Dan dalam waktu dekat akan diterapkan di daerah Situbondo. “Kami rencana perkenalkan ini dengan bupati, untuk teman-teman persentasi, kalau tertarik kita bisa kerjsama,” katanya.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, Guru Muda Sumbawa Gelar Seminar Pendidikan Online

Kementerian PDT, juga membawa tim yang ditugaskan untuk memberikan pelatihan manajemen bagi penenun yang ada di Sumbawa. Dengan penataan manajemen, tenunan yang biasanya diproduksi selama satu bulan, dapat dipangkas menjadi satu hingga dua minggu.

“Kami bawa merdi sihombing, untuk tinggal bersama penenun. Ajarkan teknik baru tentang tenun. Kami tahu, 1 bulan untuk bisa satu tenunan selama ini.  Kami ajakarkan agar bisa lebih efesien dan efektif, satu minggu 1 lembar. Ada managejen yang diatur, mulai gulung benang, nenun, jualan satu orang. Kami buat kelompok. Misalnya yang tua gulung benang, yang muda nenun, anaknya yang jualan. Tapi kita mesti bekelompok, jadi tidak satu satu seperti selama ini,” jelasnya.

Selain itu, juga membawa tim Barista untuk membangkitkan pemasaran kopi lokal sumbawa untuk diolah dan dipasarkan. “Sumbawa punya kopi. Sekarang kalau mau ngopi di sumbawa itu dimana. Ini yang harus kita bangikitkan. Anak-anak muda ngopi, dan kopinya itu dari  Sumbawa. Ini yang ingin kita pengeln lakukan, kita bawa sesuai dengan lokal,” imbuhnya. .

Diungkapkan, tim Dirjen PDT menunggu respon Pemda Sumbawa terhadap program-program tersebut, agar dapat diaplikasikan segera. “Setelah sail kita pulang, konsilidasikan disana. Dan balik lagi ke sini untuk diterapkan. Paling kita survey 1 samap 2 minggu. Kalau deal, jalan, saya gak mau lama. Saya pengen riel. Kita yakin bisa,” ungkapnya.

Dijelaskan, Sumbawa memiliki potensi besar untuk memasarkan produk unggulan lokal seperti kain tenun dan kopi. Terlebih ditunjang dengan kemajuan teknologi yang ada saat ini. “Sumbawa dekat Lombok, dekat Bali. Kenapa tidak kita pikirkan ke Lombok ke Bali pemasarannya. Dengan sistem digital yang ada saat ini semua mungkin dalam hal pemasaran,” tegasnya.

Baca juga:  Bupati Sumbawa Pastikan Pelaksanaan UNBK Berjalan Lancar

Rektor UNSA Dr. Syafruddin, MM menyampaikan rasa syukurnya atas kuliah umum Dirjen PDT yang telah memberikan motivasi dan semangat bagi UNSA. Menurutnya, berdasarkan pemaparan Dirjen, bahwa tidak ada yang mustahil. Keterbatasan modal dan fasilitas tidak menjadi batu sandungan untuk bisa berbuat dan maju. Solusinya adalah melalui aplikasi digital. Aplikasi digital harus diakui dapat mengurangi biaya transaksi ekonomi. Dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa  selama program KKL yang selama ini konvensional.

“Tahun depan KKL UNSA itu tematik. Misalnya internet desa. Kita akan tempatkan mahasiswa- mahasiswa UNSA di desa yang belum optimal terkait internet. Dibantu oleh tim dari Kemendes PDTT,” jelasnya.  (KS/MS)