oleh

Dikes Hentikan Imunisasi MR Untuk Muslim

Kabarsumbawa.com – Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Sumbawa beserta seluruh jajaran Puskesmas untuk sementara waktu telah menghentikan imunisasi MR khusus bagi anak-anak muslim di Sumbawa.

Kabid P2PL Dikes Kabupaten Sumbawa Agung Riyadi, yang ditemui diruangannya kemarin mengatakan, bahwa penghentian vaksin MR di Sumbawa, karena memang belum dilabeli sertifikat halal dari MUI, serta adanya instruksi penghentian sementara dari Kementerian Kesehatan.

“itu sudah kita hentikan. Itupun karena ada instruksi dari Kementerian. Artinya, kalau kami menghentikan itu, harus ada dasarnya. Karena ini kan program nasional yang tidak bisa kita cut begitu saja. Kita minta petunjuk, apa petunjuknya. Ternyata memang hasil komunikasi antara Kementerian Kesehatan dan MUI pusat hari Jumat yang lalu itu kita diminta untuk menghentikan sementara untuk mereka warga muslim. Program ini tetap berjalan bagi non muslim”, jelasnya.

Mekalipun vaksin ini belum bersertifikat halal lanjutnya, bukan berarti vaksin ini haram. Jika ada dari masyarakat yang yakin bahwa vaksin ini tidak haram dan bermanfaat bagi kesehatan anaknya, dan jika diminta, maka Dikes siap memberikan pelayanan imunisasi.
“Kita tunggu informasi lebih lanjut dari Kementerian Kesehatan. Itupun kemarin, pak Kepala Dinas menghentikannya setelah berkoordinasi dengan pak Bupati. Kemudian mendapatkan informasi melalui SMS dari pak Dirjen P2P. Akhirnya beliau mengambil kebijakan stop sementara. Dua atau tiga hari mendatang kemungkinan sudah akan muncul lagi kebijakannya”, ungkapnya.

Baca juga:  Sepuluh Pasien Positif Covid-19 Isolasi Mandiri di Rumah

Lanjut Agung, vaksin yang digunakan saat ini, sudah sangat jelas untuk Campak dan Rubella. Vaksin ini diproduksi di beberapa negara. Seperti di Jepang dan Philifina. Selanjutnya pemerintah Indonesia melalui Bio Farma membelinya dari Study Institute of India yang memproduksi vaksin MR.
“Tolong di ingat, vaksin MR ini bukan kita saja yang menggunakan. Sebagian besar negara di Timur Tengah dan di negara muslim di Afrika juga menggunakannya. Itulah yang mungkin menjadi dasar kenapa pemerintah kita membelinya dari India. Yang jelas kebijakan itu sudah kita ambil terkait pro kontra di lapangan”, ujarnya.

Baca juga:  Bertambah, Pasien Positif Covid-19 di NTB Jadi 21 Orang

Berkaitan dengan sejumlah anak yang terbukti gatal-gatal setelah mendapat imunisasi MR lajutnya, pemberian vaksin kadang-kadang menimbulkan kejadian ikutan paca imunisasi. Selain gatal-gatal, kejadian ikutan ini bisa muncul dalam bentuk alergi, pusing dan demam. Dan itu biasa terjadi.

“Tapi untuk MR, kecil kemungkinannya. Kalaupun itu terjadi sangat bersifat individualistik. Masing-masing orang tidak sama kekebalan tubuhnya. Ada yang gampang menerima dan ada yang menolak dengan manifestasi dan lain- lain. Dan apa yang terjadi tersebut sudah ada penangkalnya. Jangan khawatir, teman-teman kami sangat profesional”, ungkapnya. (KS/aly).