by

Proses Pemungutan Suara di TPS 6 Sumbawa Ricuh

simulasi pengamanan pilgub ntb
simulasi pengamanan pilgub ntb

Kabarsumbawa.com – Proses pemungutan suara pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur di TPS 6 berjalan ricuh.
Ricuhnya proses pemungutan suara tersebut dikarenakan adanya sekolompok warga yang melakukan pencegatan petugas yang akan membawakan kotak yang berisakan surat suara ke TPS tersebut. Sekelompok warga itu melarang dan ingin merebut kotak surat suara yang dibawah oleh petugas. Petugas yang merasa tidak dapat mengtasi masa yang kian brutal itu, petugaspun meminta bantuan ke pihak kepolisian Polres Sumbawa.
Setelah mendapat laporan polisi pun datang kelokasi yang dimaksud untuk melakukan pengamanan dan berhasil mengamankan sekolompok orang tersebut, singga kotak suarapun bisa dibawah ke TPS dengan aman, dan sekelompok orang tersebut diamankan oleh polisi.
Tidak sampai disitu, dalam proses pemungutan suarapun petugas TPS 6 menemukan salah seorang warga yang hendak menggunakan hak pilihnya membawa senjata tajam (sajam). Karena hal tersebut melanggar aturan maka petugaspun meminta agar sajam tersebut dititipkan sementara ke petugas TPS, namun orang tersebut menolak sehingga terjadi cecok dengan petugas. Percekcokan tersebut berhasil diselasaikan setelah petugas keamanan TPS melakukan negosiasi.
Memasuki tahap pemungutan suara, salah seorang pemilih yang hendak menggunakan hak pilihnya namun tidak membawa E-KTS, Suket, ataupun Surat Pemeberitahuan dari KPU yakni Model C6-KWK. Saat petugas memintanya, tapi pemilih ini malah marah-marah dan menyerang petugas. Dilakukan lagi negosiasi dan berhasil ditenangkan.
Saat peroses pemungutan suara berlangsung, terjadi keributan di luar TPS, setelah ditelusuri oleh perugas keamaan TPS, ternyata ada sekolompok orang yang telah selesai menggunakan hak pilihnya melakukan intimidasi kepada warga yang hendak mengunakan hak pilihnya di TPS 6.
Melihat kejadian tersebut semakin tidak bisa dikendalikan, petugaspun meminta bantuan kepada polres Sumbawa. Polisi pun mendatangi tempat kejadian dan melakukan negosiasi namun tidak diindahkan oleh sekelompok orang tersebut, polisi pun mengambul tidak tegas dengan mengamankan beberapa orang dari kelompok tersebut yang dianggap sebagai propokator.
Ternyata kericuhan di TPS 6 tidak berhenti disitu, saat penghitungan suara telah berakhir, dan ketua TPS 6 mengumumkan hasil pemeolehan suara masing-masing paslon. Ada satu orang saksi dari paslon melakukan protes terhadap hasil suara yang diumumkan sebab berbeda dengan apa yang ai catat. Perotes tersebut berlangsung ricuh, hingga petugas pun kembali meminta bantuan kepada polres Sumbawa. Polisipun datang dan mengamankan orang tersebut.
Itulah runtutan proses simulasi pemumungatan suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB oleh Polres Sumbawa, di halaman kantor Bupati Sumbawa. Senin (25/06/2018)
Kapolres Sumbawa, AKBP Yusuf Sutejo SIK, mengatakan bahwa simulasi tersebut melibatkan berbagai unsure, baik petugas pengamanan TPS, TNI, Polri, Linmas, PolPP, KPPS, hingga PPL yang ada di TPS dengan tujuan pada saat pelaksanaannya tercipta sebuah sinergitas bagaimana mewujudkan pilkada yang damai dan lancar.
“Saya selaku pengendali oprasional di kabupaten Sumbawa ini sewaktu-waktu akan meminta bantuan ke Kodim 1607 sumbawa, Brimob bila situasi sudah tidak memungkinkan. Untuk sementara ini anggota kita ada sebanyak kurang lebih 3000 untuk melakukan pengamanan proses pemungutan suara”, katanya. (KS/aly).