oleh

Kita Menjaga, Kita Menikmati

-Opini-61 views

Kita Menjaga, Kita Menikmati
Oleh: Paramita Desi*)

*) Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang

Pekan lalu saya tiba di tanah KSB dengan membawa perasaan penuh riang. Sebagai seorang pelajar yang selalu meninggalkan kampung halaman, saya mengusahakan setidaknya setiap libur semester saya harus pulang kampung. Tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya, keriangan saya hanya berpusat pada keluarga dan sahabat lama. Kali ini saya pulang dengan beberapa pemandangan yang dapat menarik sebuah senyum di bibir, mungkin hal yang sama terjadi pada masyarakat Taliwang lainnya.

Saya berdomisili di sekitar kota sehingga hal pertama yang saya lihat adalah patung replika pesawat di bundaran menuju area Kemutar Telu Center. Mengingatkan saya pada tanah rantauan di kota bunga, Malang. Pertama, kesan saya adalah saya tidak lagi merasa berada di tempat yang jauh dari mana pun, dari siapa pun. Suasananya cukup membantu diri saya yang selalu gundah oleh kondisi berpindah-pindah tempat. Kedua, saya tidak lagi terlalu bosan berada di kota ini.

Lain hari saya menemukan sebuah nuansa baru di kota ini dan cukup mencolok bagi saya. Yaitu kerja bakti di beberapa titik jalan raya. Secara pribadi, saya merindukan nuansa gotong-royong ini. Momen kebersamaan yang selalu saya baca di buku sekolah dasar langsung diimplementasikan di sekolah maupun di rumah. Sebuah nilai yang khas masyarakat lokal Indonesia. Nilai yang mulai terkikis oleh zaman, yang terabaikan oleh Generasi Z. Sebagai bagian dari masyarakat KSB, saya sangat mengapresiasi gerakan ini.

Baca juga:  Eksploitasi Anak VS Budaya

Keluarga dan sahabat saya selalu merekomendasikan Danau Lebo untuk dikunjungi. Saya berpikir, bagian mana yang harus saya kunjungi? Saya selalu suka suasana alam seperti yang ada di Danau Lebo. Tetapi, untuk mengunjunginya dengan segenap hati riang yang ditunjukkan mereka itu saya rasa saya kurang tertarik. Bagaimana pun, saya tetap ikut mengunjungi Lebo bersama keluarga. Hari itu sudah menjelang sore dan baru saja hujan berhenti menumpahkan diri ke bumi.

Sesampainya di sana, saya bangga sekali. Akhirnya Lebo bisa dinikmati lagi. Saya mengambil beberapa gambar diri di area yang dibangun dengan kayu. Aroma menenangkan sebuah sore, pandangan mata terpana oleh luasnya danau lengkap dengan biotanya, dan tempat berpijak yang biasa saya lihat di tempat lain kini ada di depan mata. Namun, kebahagian saya sedikit terganggu dengan pemandangan kurang sedap di bawah tempat itu.

Baca juga:  Covid -19 VS Puasa Ramadhan

Sampah plastik tersebar di atas kelopak daun. Saya teringat di depan pintu masuk ada tulisan “Jaga Kebersihan” Sekilas saya menggerutu karena masih saja kita menikmati alam dengan cara yang salah. Kita terlalu mengharfiahkan nilai kearifan alam yang kita tinggali. Kita terlalu apatis dengan lingkungan kita sendiri. Saya pun sadar di tempat itu tidak serta merta saya menyalahkan oknum yang meninggalkan sampahnya, saya mulai memandangi hampir tidak ada tempat sampah di sekitar tempat itu. Tetap saja, perlukah kita membuang sampah yang kita bawa ke dalam air? Kita perlu sedikit menyadari bahwa sampah yang kita abaikan itu menyimpan akibat yang harus menjadi tanggung jawab kita bersama.

Jika kita ingin menikmati alam, jangan segan untuk melindunginya. Cukup dengan membawa kembali sampah yang kita bawa.
Saya rasa sebuah tempat asri yang fungsinya untuk dinikmati bersama, perlu disiapkan tempat sampah di setiap sudut lokasi demi menjaga bersama keasriannya.

ksbksb ksbksb