oleh

KPH Puncak Ngengas Batulanteh Tanam 3000 Bibit Kayu Putih

kph batu lantehSumbawa Besar, Kabarsumbawa.com – Balai KPH Puncak Ngengas BatuLanteh, Selasa, (19/17/2017), melaksanakan penanaman minyak kayu putih bersama masyarakat di hutan produksi Serading, Kecamatan Moyo Hilir, Sumbawa Besar, dengan jumlah peserta sebanyak 200 orang dan jumlah bibit yang telah dan sedang ditanam sebanyak 3000 bibit kayu putih.

Pelaksanaan penanaman minyak kayu putih bersama masyarakat merupakan rangkaian dari Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI), Bulan Menanam Nasional (BMN) dan Rangkaian dari Hut NTB ke-59.

Kepala Balai KPH Puncak Ngengas Batulanteh, Julmansyah, S.Hut., MAP., dalam laporannya, menjelaskan bahawa Kegiatan tersebut merupakan kerjasama dari Balai Pengelolaan Hutan Prodduksi BPHP wilayah 9 Denpasar dengan Balai KPH Puncak Ngengas Batu Lanteh, Dinas LHK Provensi NTB yang didukung oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Kuwarcab
Sumbawa, Sakawana Bakti, dan Mahasiswa UNSA dan UTS serta petani penggarap.

Baca juga:  Distributor Timbun Sembako, Ancaman Pidana Menanti

Adapun tujuan kegiatan tersebut lanjutnya, sapaan akrabnya, untuk menunjukan kepada kita semua tentang pola tumpang sari tanaman kayu putih dengan tanaman jagung yang telah menjadi primadona masyarakat Sumbawa beberapa tahun terakhir.

“Nanti kita akan saksikan bagaimana model pola tumpeng sari tanaman minyak kayu putih dengan jagung di lokasi ini”, katanya.

Disamping itu lanjutnya, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk membangun kesadaran para pelajar, mahasiswa, serta masyarakat akan pentingnya penanaman pada hari ini. Di lokasi ini juga sambungnya, kami dari KPH Puncak Ngengas Batulanteh telah melakukan panen Perdana sekaligus pemangkasan tanaman kayu putih yang telah kami proses menjadi minyak kayu putih dengan Brand Sumbawa Kajuput.

Baca juga:  Dirut : Perusda Butuh Kepercayaan dan Dukungan Modal

Kegiatan ini juga tambahnya, pihaknya ingin menunjukan bahwa tanaman kayu putih sangat cocok untuk iklim kering seperti di Sumbawa, serta rasa toleran dengan berbagai jenis tanaman semusim dengan pola tumpang sari.

“Yang jauh lebih penting, tanaman kayu putih tidak disukasi oleh ternak yang menjadi tradisi masyarakat Sumbawa pada umumnya”, jelasnya. (KS/aly).

ksbksb ksbksb