oleh

“Lala-Minyak Samawa”, Budaya Muharram Dalam Festival Pesona Moyo

Sumbawa Besar, Kabar Sumbawa – Bulan Muharram, dianggap waktu yang tepat untuk untuk melangsungkan ritual pembuatan minyak samawa. Dan, Malam 1 Muharram 1439 H – Malam Tahun Baru Islam, yang bertepatan Rabu (21/9), menjadi incaran bagi para ahli spritual atau sandro dari 24 kecamatan untuk memamerkan khasiat dari racikan minyak samawa.

H.Jahmad H.Masrang beserta asisten, merupakan pasangan pengracik minyak samawa dari Kecamatan Maronge yang ikut ambil bagian dalam Festival Melala 1 Muharram, yang merupakan bagian dari Festival Pesona Moyo 2017. Dalam festifal tersebut menampilkan ramuan “Minyak Ranjau Bura” – penangkal penyakit non medis termasuk “Bura”..

“Kami membuat minyak sumbawa ranjau ini turun temurun,” ujarnya yang didampingi asisten sandro A. Karim (Anjo) saat festival melala di Lapangan Pahlawan, Rabu (20/9).

Diungkapkan, dalam membuat minyak ramuan asli sumbawa ini berlangsung 4 hingga 6 jam. Mulai dari proses pemarutan kelapa, peras dan merebus sampai siap digunakan. Adapun rempah-rempah yang disiapkan selama 4 hari ini, terdiri terdiri dari 44 macam ramuan seperti kayu, batang, akar, dan daun-daunan.

“Tidak ada bahan yang sulit kita dapatkan, karena semua ada di alam. Begitu ula dengan bahan rahasai sama sekali tidak ada. Cuman saat bahan tersebut dipetik ada doanya. Semacam kita minta permisi kepada pemilik kayu itu. Minta permisi untuk diambil buat dijadikan obat,” terangnya.

Baca juga:  MUI Sumbawa Ajak Masyarakat Sholat Idul Fitri di Rumah

Ditempat yang sama, Nani warga Keluarahan Brang Biji yang merupakan salah seorang pengunjung mengatakan, kesempatan ini tidak disia-disiakan untuk meminta minyak Ranjau Bura. Pasalnya, dia menduga penyakit yang dideritanya itu akibat guna-guna. Dimana, dia juga sempat berobat ke dokter, namun tidak mendapatkan perubahan

“Saya sudah sempat ke dokter, tapi belum ada perubahan. Kebetulannya ada festival melala ini jadi saya datang dan ingin meminta minyak ranjau bura. Kita sebagai manusiakan hanya bisa ikhtiar saja,” ujarnya saat menunggu minyak sumbawa ranjau bura tersebut masak atau jadi.

Selain minyak sumbawa ranjau bura, masih banyak pula minyak sumbawa lainnya yang diracik oleh sandro dari 23 kecamatan se-Kabupaten Sumbawa. Diantaranya, Kecamatan Buer (Minyak Pio), Kecamatan Empang (Rungkas Pagar), Kecamatan Rhee (Sakoat Ade Lopas), Kecamatan Moyo Hulu (Baret Renam / Kangano), Kecamatan Alas Barat (Lipan Api), Kecamatan Tarano ( Ampin Kakak ), Kecamatan Lantung (Kakele), Kecamatan Alas (Medo Urat),  Kecamatan Sumbawa (Sanyaman Parana).

Baca juga:  Kapolres Sumbawa Salurkan Bantuan Polri ke Pulau Terpencil

Selanjutnya Kecamatan Lape (Kebo Karong Buya Timal),  Kecamatan Moyo hilir (Bisa Ngaram), Kecamatan Utan ( Karasang Buya Ampo), Kecamatan Maronge (Ranjau Bura), Kecamatan Labangka (Pasak Liang Dewa), Kecamatan Batu Lanteh (Kaseluk Bakat Sengelawar), Kecamatan Lenangguar (Bacan Putih), Kecamatan Plampang (Sambung Nyawa), Kecamatan Lopok (Ampo Jangi), Kecamatan Labuhan Badas (Panan Tuja Batu), Kecamatan Lunyuk (Minyak Teman Tampir), dan Kecamatan Unter Iwes (Minyak UI “Untuk Istri’). (ks/adm)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *