Modal Menjadi Masalah Utama Bagi Pelaku Usaha Mikro

181
Drs. Arif M.Si
Drs. H. Arif M.Si
Kepala Diskoprindag Kabupaten Sumbawa

Sumbawa Besar, KabarSumbawa.com – 40 ribu lebih pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Kabupaten Sumbawa masih terkendala dengan modal untuk mengembangkan usaha mereka. Hal tersebut lebih terasa bagi pelaku usaha sangat kecil atau super mikro.

Drs H Arif M.Si , selaku Kepala Diskoprindag Kabupaten Sumbawa, mengatakan, membutuhkan modal hingga puluhan milliar untuk memodali seluruh UMKM yang ada sampai dengan pelaku usaha terkecil. Namun, untuk saat ini pihaknya lebih memfokuskan perhatian kepada usaha kecil (Mikro).

“untuk saat ini fokus kepada yang mikro yakni pedagang yang sangat kecil, super mikro bila perlu,” ujarnya pada wartawan, Sabtu (29/4).

Dijelaskan, persoalan pada pelaku usaha super mikro  lebih memiliki banyak elemen dan lebih kompleks. Dimana mereka berada dalam lingkungan interaksi pasar praktis, yaitu ketika memiliki barang dagangan langsung diperjual belikan, begitu seterusnya. Sehingga, kegiatan seperti ini tidak dapat masuk dalam lingkup retail modern, yang paling tidak flo kapitalnya menunggu selama sebulan.

Adapun pelaku usaha super mikro paling banyak berada di pasar tradisional yaitu seperti pedagang pelantaran dan pedagang bakulan. Dalam melakukan kegiatannya, mereka membutuhkan modal segar atau fress kapital. Sehingga, disinilah persoalan bertambah ketika yang dapat memberikan mereka modal segar dan cepat hanya seorang rentenir.

“Yang dapat memberikan mereka uang dengan cepat itu adalah rentenir bukan bank. Setengah mati dia dapat pinjaman bank. Sejak kapan pengusaha bakulan, ibu-ibu yang tua-tua itu jualan bisa pinjam uang bank,” ungkapnya.

Diakuinya, memang human kapital atau modal kemampuan manusia yang ada sudah memenuhi. Pada dasarnya mereka sudah sangat mengerti manajemen dan organisasi. Namun, hal tersebut tidak cukup apabila finance kapitalnya sangat lemah.

Dengan fakta yang dihadapi sebanyak 87 persen masyarakat Sumbawa yang menggantungkan hidupnya sebagai pelaku UMKM, membutuhkan kebijakan yang khusus bagi mereka.

“Kalau mau menyelesaikan masalah di Sumbawa terkait kesenjangan dan kemiskinan selesaikan yang ini,” Katanya.

Sementara itu, pihak Diskoprindag juga telah memberikan kemudahan bagi pelaku usaha dengan izin usaha yang dapat diperoleh hanya melalui prosedur birokrasi di Kecamatan.  Kemudian, terhadap retail modern yang cukup banyak di Sumbawa diwajibkan untuk bermitra dengan UMKM setempat.

Jadi, retail modern harus menjual barangnya kepada UMKM dengan harga yang murah. Begitu pula dengan barang hasil UMKM yang akan ditampung di gray-gray retail modern.

Akan tetapi, produk hasil UMKM hanya dapat diterima oleh retail modern apabila barang mereka sudah memenuhi standar, diantaranya seperti, sudah memiliki packingan, memiliki label kehalalan, dan telah dilakukannya uji POM. Sehingga, UMKM yang dapat masuk ke retail modern adalah UMKM menengah dan kuat. Sementara pelaku usaha super mikro tetap berada diposisinya,

“Ini yang kita menuju ke arah sana. Jadi performance tampilan produk itu tidak hanya isi semata, tetapi juga karena keamanan packingannya dari pengaruh unsur kuman, bakteri dan sebagainya. Dan teruntuk usaha super mikro keterampilan dan kemodalan usaha ini lah yang perlu kita dorong,” pungkasnya. (KS/aly).

BAGIKAN

1 KOMENTAR

Comments are closed.