oleh

Tunas Tunas Politik

-Opini-67 views

ilustrasi tunas tunas politikOleh : Aisyah Mumary Songbatumis

KabarSumbawa.com – Kelak akan ada sebuah pertanyaan yang harus kita jawab, yakni untuk apa kita menghabiskan masa muda kita. Semuanya akan bicara di hadapan Allah. Tidak ada yang berdusta. Berangkat dari itulah,  dalam tulisan ini saya tidak hanya memfokuskan pembicaraan tentang hak-hak kaum muda dalam menyampaikan pendapat, tapi juga kepada pemerintah, orang tua, dan masyarakat untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang tanpa kita sadari telah kita hadirkan dalam hidup ini.

Jujur, terkadang saya merasa ingin cepat tumbuh dewasakarena saya merasa sebagian besar masyarakat “meremehkan” generasimuda.Di tempat atau media tertentu, saya sering menjumpai perkataan seperti, “kalian masih kecil, tak tahu apa-apa!ini masalah orang besar, anak kecil tidak boleh tahu!” dan lain sebagainya.

Mengapa hal ini bisa terjadi?Penyebab utama lahirnya asumsi-asumsi tersebut adalah karena kebanyakan masyarakat hanya beranggapan berdasarkan pengalaman-pengalaman.Pengetahuan masyarakat adalah pengetahuan pengalaman bukan pengetahuan ilmiah, sehingga ada beberapa generasi muda pada kurun waktu tertentu diberikan kepercayaan tapi tidak amanah, ada generasi muda dipercayakan tapi belum sanggup menantang badai.

Sebagai manifestasi pembelajaran dari masa lalu agar tidak kesalahan yang samaterulang kembali, maka perlu dibentuknya masyarakat berpendidikan, masyarakat membaca, masyarakat berbudaya, dan masyarakat yang memahami tugasnya. Intinya, manusia itu bukanlah terletak pada tua atau muda, tapi pada komitmen, integritas, dan loyalitas terhadap agama, janji, dan tugas-tugas yang diamanatkan oleh orang banyak kepadanya.

Dalam Al-Qur’anul Karim, surat An-Nisa ayat 9 menerangkan kepada kita bahwa negara, orang tua, dan masyarakat berkewajiban untuk mendidik generasi muda dengan baik dalam rangka menjadi pemimpin di kemudian hari agar terciptanya generasi muda sebagaimana yang kita idamkan selama ini karena sungguh keadaan generasi muda suatu bangsa adalah bergantung dari bagaimana pemerintah, orang tua, dan masyarakat mendidik generasi muda itu sendiri.

Oleh karena itu, pertama-tama, masyarakat, orang tua, pemerintah, dan negara harus mempersiapkan dan merancang masa depan anak-anak muda sebagai generasi penerus.  Berdasarkan lagu Indonesia Raya, pertama-tama yang dibangun dari generasi ini adalah character building atau bangunlah jiwanya, di mana yang perlu dibangun adalah emosional, etika, moral, dan kejujurannya. Kemudian, bangunlah badannya, yaitu keterampilan dalam berpikir, berlogika, berbicara, berkarya, dan lain-lain.Kedua, adanya Sistem Pendidikan yang berkesinambungan.Dalam membentuk hal tersebut, kita harus tahu kisi-kisi negara kita; mau dibawa ke ma’na anak-anak muda ini?Mau diapakan? Mau ahli dalam bidang apa? Inilah yang menjadi tugas negara. Selain itu juga, mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menunjang semua persiapan tersebut, kemudian pemerintah harus menargetkan waktu tertentu, berapa tahun untuk mempersiapkan segalanya, setelah itu pemerintah menyerahkan beberapa tugas, baik tugas kemasyarakatan, kenegaraan, dan tugas pemerintahan kepada para pemuda.

Realita yang kita lihat sekarang dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas generasi muda yakni pemerintah tengah mempersiapkan bahkan sudah mempersiapkan berbagai lembaga pendidikan, lembaga keterampilan, lembaga diklat, dan lembaga-lembaga yang bertanggung jawab, seperti Departemen Agama, Departemen Pertahanan, Departeman Pendidikan,  dan lain sebagainya. Namun, yang menjadi permasalahan saat ini adalah tidak adanya keteladanan.Dalam istilah hukum, “pedang tajam ke atas tumpul ke bawah.”Contohnya, jika anak pejabat membunuh orang, pihak yang berwenang hanya memberikan hukuman tidak setimpal bahkan mungkin tidak dihukum.Tapi jika orang biasa, hukuman penjaranya bertahun-tahun. Sungguh berbanding terbalik! Inilah beberapa hal yang tidak bisa kita jadikan teladan, panutan, dan contoh.

Baca juga:  Eksistensi Dunia Pendidikan di Indonesia

Jadi, walaupun pemerintah sudah mempersiapkan sistem, sarana dan prasarana dan lain sebagainya, kalau keteladanan tidak ada dari mereka sendiri maka jangan pernah berharap negara ini akan makmur.

Demikian pula dengan generasi muda.Para pemuda sekarang ini mayoritas pemudanya dikarbit atau “dipaksa matang.” Kita tidak seperti gaya pejuang tempo dulu. Mereka matang dan masak karena pengalaman serta perjuangan demi perjuangan, mereka dibesarkan oleh keadaan, mereka dibuat tangguh oleh tantangan dan perjuangan sehingga mereka menjadi pemimpin yang tangguh, hebat, kokoh dan kuat.Jika kita bandingkan dengan pemuda zaman sekarang, mereka dipandang besar karena gagahnya dan dekat dengan para pemimpin.

Kita dapat mengambil banyak pelajaran dari Sejarah Islam.Ada banyak teladan yang bisa kita simak dari sahabat Nabi SAW yang berusia belia. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Ali bin Abi Thalib

Ketika berusia 10 tahun, orang pertama yang ditemui Rasulullah ketika beliau menerima wahyu pertama kali adalah Ali bin Abi Thalib.

  1. Zaid bin Tsabit

Beliau adalah anak yang berusia 13 tahun.Beliau menyibukkan hidupnya dengan urusan umat.

  1. Zubair bin Awwam

Dialah teman diskusi Rasulullah SAW, anggota pasukan berkuda Islam, tentara yang pemberani, juga pemimpin dakwah Islam.Usianya saat itu adalah 15 tahun.

  1. Thalhah bin Ubaidillah

Dalam usia 16 tahun, beliau adalah seorang pembesar utama barisan Islam di Mekah, tentara berkuda yang masyhur dengan kepiawaian dan keberaniannya.

  1. Sa’ad bin Abi Waqash

Beliaulah sahabat besar yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam.Usia beliau 16 tahun ketika itu.

  1. Al-Aqram bin Abil Arqam Al-Makhzumi

Selama 13 tahun penuh, beliaulah yang berani membuka pintu rumahnya untuk dijadikan markas dakwah kota Mekah, meski bahaya terus membayangi. Beliau masih berusia 16 tahun.

Sumber : Majalah Ad-Dakwah edisi 5 vol. 1, 2010

Dan masih banyak teladan-teladan yang patut kita tiru pada masa-masa terdahulu.

Terkait dengan generasi muda berbicara politik adalah suatu keniscayaan dan kewajiban.Mengapa? Karena sudah menjadi keyakinan semua orang bahwa masa depan suatu bangsa bergantung pada generasi mudanya. Jika kualitas dan karakter generasi muda suatu bangsa baik dan unggul, maka masa depan bangsa tersebut akan baik. Sebaliknya, jika kualitas dan karakter generasi mudanya jorok dan keropos, maka masa depan bangsa tersebut di ambang kehancuran. Selain itu, tanpa generasi muda memahami politik, berpengalaman tentang politik padahal negara kita ini diatur dengan politik, maka siapa lagi yang akan memimpin negara tercinta ini?

Perlu diingat, dewasa ini pembicaraan tentang politik bukan lagi menjadi milik sekelompok atau segelintir masyarakat saja, tapi sudah menjadi topik yang sering dibicarakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk lapisan remaja dan pemuda.Pengetahuan tentang politik memang tidak diajarkan langsung dalam pendidikan formal di tingkat dasar dan menengah atas, namun pengetahuan tersebut bisa diperoleh melalui media-media dan obrolan-obrolan di tengah-tengah masyarakat.

Baca juga:  Pilpres 2019, Umat Islam sebagai Penentu

Ketika generasi bicara politik maka akan melahirkan banyak dampak positif. Selain manambah wawasan dan kemampuan menganalisa sebuah persoalan yang ada pada media dan lingkungannya, juga akan terlihat cikal bakal politisi-politisi muda berkualitas, karena mereka mengetahui keadaan, kondisi, dan situasi negaranya, baik yang berhubungan dengan strategi pembangunan dan lain sebagainya. Dari kegiatan ini juga, mereka akan belajar bagaimana mengatur dan memimpin bangsa dengan rakyat yang berwarna-warni. Generasi muda adalah generasi penerus, mereka harus dipersiapkan untuk melanjutkan estafet perjuangan daripadagenerasi terdahulu.

Mungkin bagi setiap pakar-pakar politik atau politisi-politisi senior, argumen-argumen kaum muda tentang politik masih dipertimbangkan dan dianggap kurang.Tapi, itu semua tidak menjadi penghalang, karena kita berkiblat pada UUD 1945 pasal 28 yang berkaitan dengan kebebasan berserikat dan berkumpul (berkaitan dengan kebebasan berpendapat). Tidak apa-apa jika kaum muda bicara tentang politik secara praktis, tentu politik yang tetap bersandarkan kepada konsep Ideologi Negara, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tujuan Negara dibentuk berdasarkan UUD 1945 alinea keempat yakni tentang tugas negara, “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.” Hal yang tidak boleh dibicarakan dan harus dihindari oleh pemuda dalam pembicaraan politik adalah tentang politik picik dan egosentris, yaitu politik yang meganggap dirinya paling benar, paling pas, dan memiliki konsep yang paling bagus, serta meganggap yang lain adalah salah.

Sebagai kaum muda, tugas kita saat ini adalah mempersiapkan diri untuk masa depan, memanfaatkan waktu dan kesempatan yang baik melalui diskusi, seminar, dialog, penelitian, dan lain sebagainya yang dapat mengasah kemampuan kepemimpinan dan wawasan. Perlu diingat, pengetahuan politik yang benar sangat perlu dimiliki, minimal diketahui oleh para remaja agar bisa memahami makna dari sebuah tujuan yang diharapkan.Dengan pengetahuan politik yang benar, kita tidak salah lagi dalam menafsirkan sebuah rencana dalam mencapai tujuan, sehingga ketika seorang remaja memiliki pemahaman politik yang benar, secara tidak langsung dia sudah ikut berpartisipasi dalam era reformasi di negara yang berdemokrasi.

Semoga dengan itu semua, akan ada perubahan besar bagi kehidupan kita. Khususnya untuk Indonesia.