by

BPOM Ingatkan Guru, Seleksi Jajanan Siswa Di Lingkungan Sekolah

i-gde-nyoman-suandi-kepala-bpom-mataram
Drs. I Gde Nyoman Suandi, Apt, MM
Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Mataram

Sumbawa Barat, Kabar Sumbawa – Dewasa ini, banyak produsen makanan yang mulai nakal untuk dengan menghalalkan segala cara untuk melariskan dagangannya. Bahkan, sampai menggunakan bahan kimia jenis Formalin, Borax, Wantex atau yang dikenal dengan Rodamin B dan Metanil Yellow. Padahal, empat bahan kimia tersebut di larang keras oleh pemerintah untuk dicampurkan dengan makanan.

Oleh karena itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Mataram menghimbau kepada seluruh sekolah dan juga guru di Sunbawa barat agar lebih berhati-hati dalam menyeleksi jajanan yang di jual di lingkungan sekolah maupun sekitar sekolah. Karena, dari hasil temuan BPOM, masih banyak jajanan sekolah yang menggunakan bahan kimia tersebut.

“Efektifnya, sekolah melarang siswa membeli jajan di luar sekolah. Ini untuk melindungi mereka dari bahan kimia itu,” ungkap Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Mataram, Drs. I Gde Nyoman Suandi, Apt, MM pada media, Selasa (8/11) disela-sela kesibukannya menghadiri Pencanangan Aksi Daerah Keamanan Pangab Jajanan Pada Anak Usia Dini Tahun 2016 Untuk Membangun Generasi Emas NTB di Lantai 3 Gedung Setda KSB.

Baca juga:  Mengenal “Irritable Bowel Syndrome (IBS)”

Ia mengungkapkan, pihaknya sering menemukan bahan-bahan tersebutdi dalam makanan yang sering di konsumsi oleh siswa. Seperti, permen dan beberapa makanan lain yang menggunakan pemanis atau pewarna buatan. Bahkan, sudah mulai beredar di Tanah Pariri Lema Bariri ini.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar kantin siswa dapat menyediakan makanan yang sering di konsumsi oleh siswa. Dan bila perlu kantin sekolah bangun mitra dengan produsen jajanan untuk urusan ketersediaan pangan siswa.

“Jangan asal ambil dari pengusaha kecil tanpa di ketahui apa jajanan dagang itu bebas dari bahan kimia atau tidak.” Terangnya.

“Semua jajan yang di jual atau yang di dagang itu harus ada label tanda pengesahan dari Pemkab setempat. Artinya, di cek terlebih dahulu oleh dinas terkait mengenai kandungan. Apakah baik untuk kesehatan atau tidak,” Tegasnya.

Baca juga:  Dinkes Tangani 89 Kasus Suspect dan 18 Positif DBD

Kepada Pemkab, ia berharap, agar dapat melakukan pemantauan secara berkala terhadap sentra produksi jajanan di daerahnya masing-masing.

“Jika kita rutin melakukan pemantauan, tentunya Ruang gerak pengusaha yang hendak menggunakan, bahan kimia berbahaya itu nihil. Jadi, pemantauan harus intens,” Tukasnya (KS04)