by

Belum Terakomodir Dalam Pandangan Fraksi, Politisi PKS Interupsi

Instrupsi Politisi PKS Salamuddin Maula
Politisi Partai Keadilan Sejahtera, Salamuddin Maula mengajukan interupsi kepada pimpinan sidang Paripurna

Sumbawa Besar, Kabar Sumbawa—Politisi Partai Keadilan Sejahtera, Salamuddin Maula mengajukan interupsi kepada pimpinan sidang Paripurna dengan agenda pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD terkait Pembahasan Ranperda Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (PJMD) akan ditutup. Pimpinan sidang, Lalu Budi Suryata, SP menanggapi interupsi tersebut awalnya menyarankan agar hal-hal yang belum tertera di dalam pemandangan umum fraksi tidak lagi disampaikan secara lisan, akan tetapi bisa menjadi catatan tambahan dari laporan fraksi yang akan disampaikan kepada Tim Asistensi Pemerintah Daerah (TAPD). Karena TAPD hanya akan mengakomodir hal-hal yang disampaikan melalui pemnadangan umum fraksi-fraksi dewan. Karena tak bergeming dengan apa yang disarankan, pimpinan sidang akhirnya mempersilahkan untuk disampaikan secara lisan.

Dalam interupsinya, Salamuddin Maula atau yang kerap disapa Jalo menyatakan tentang sector pariwisata yang belum digarap secara optimal, seperti keberadaan Danau Pekasa di Kecamatan Lunyuk  yang belum tersentuh pembangunan sarana dan prasarana penunjang, padahal danau tersebut kemungkinan hanya satu-satunya yang ada di dunia, termasuk potensi air terjuan Agal di Kecamatan Alas. “Kami menilai festival moyo tidak berdampak apa-apa, perlu adanya evaluasi bila perlu diganti dengan program-program lainnya yang lebih mendatangkan manfaat bagi daerah untuk menunjang bergeraknya sector pariwisata di Kabupaten Sumbawa,” ujarnya.

Baca juga:  Kasus Rumah Adat KSB, Jaksa Periksa Para Pihak

Hal lain yang disampaikan yakni mengenai berbagai produk local yang sebenarnya memiliki keunggulan namun tidak dimanfaatkan. Sebagai contoh Power Trasher yang mampu diproduksi oleh kelompok masyarakat di Desa Serading tetapi tidak dimanfaatkan, padahal jika ini diakomodir akan mampu membuat daya ungkit perekonomian yang sangat tinggi. “Bayangkan kalau power trasher yang dipesan dari daerah lain diganti dengan produk lokal berapa tenaga kerja yang terserap, belum lagi produk Kopi Tepal yang jauh lebih nikmat cita rasanya dibandingkan kopi dari produk lain, saya kira ini harus menjadi pertimbangan pemerintah untuk menuju Sumbawa yang Hebat dan Bermartabat,” papar Jalo. (KS/YD)