oleh

HMI Cabang Sumbawa Gelar LKK Tingkat Nasional

Sumbawa Besar, Kabar Sumbawa -Himpunan Mahasiswa Indonesia cabang Sumbawa melalui Korps HMI Wati (KOHATI) menyelenggarakan Latihan Khusus Kohati (LKK) tingkat Nasional di Kabupaten Sumbawa. Kegiatan yang dipusatkan di eks Kantor Pengadilan Negeri Kabupaten Sumbawa tersebut berlangsung dari tanggal 8-15 Mei 2016, dengan tema “Islamic Character Building Upaya Mewujudkan Muslimah Berkualitas Insan Cita”. Peserta terdiri dari utusan HMI Cabang Makassar, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Bima, Dompu, Lombok Timur dan tuan rumah sendiri.
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah membina karakter kader HMI-Wati dalam mewujudkan muslimah berkualitas insan cita, membina kader HMI-Wati yang berintelektual, idealis, berkarakter, profesional, dan menguasai IPTEK serta meningkatkan peran dan fungsi KOHATI agar menjadi muslimah bermartabat. Sementara target dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan karakter peserta latihan khusus KOHATI (LKK), supaya mampu mewujudkan 5 kualitas insan cita HMI, terbentuknya pribadi peserta latihan khusus KOHATI (LKK) yang berintelektual, idealis, profesional, dan menguasai IPTEK dan meningkatkan pemahaman peserta latihan khusus KOHATI (LKK) dalam memahami fungsi dan peran KOHATI dalam HMI dan masyarakat.
Pembukaan kegiatan ini berlangsung tadi pagi Minggu (8/5/2016) yang dipusatkan di Wisma Daerah Sumbawa Besar.
Rosdiana selaku ketua umum Kohati HMI cabang Sumbawa menjelaskan, bahwa tema yang diambil sejalan dengan Hadits Rasulluhlah SAW : ”Perempuan itu tiang negara, apabila baik ahlaq perempuannya maka akan baik pula kondisi negaranya, dan apabila perempuannya rusak (amoral) maka rusaklah negaranya”.
Dikatakan, perempuan menjadi bagian terpenting dari roda kehidupan adalah peran dan fungsi kaum perempuan. Di setiap dimensi hidup, tidak ada ruang kosong bagi perempuan untuk berkiprah di dalamnya. Sebagai laboaratorium hidup (pencetak generasi yang unggul), maka harus ada seorang perempuan yang unggul pula. Bahkan dibalik kehebatan seorang laki-laki berdiri kokoh seorang perempuan yang berposisi sebagai ibu, istri dan putri dan aggota warga masyarakat yang baik. Hal tersebut terlihat ideal jika kaum perempuan mampu merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Maka dirasa perlu pembentukan karakter yang sadar akan perubahan, karena dampak diskriminasi  telah memperlihatkan tanda-tanda awal seperti munculnya krisis kepercayaan diri (self-confidence) dan rasa hormat diri (self-esteem) sebagai perempuan. Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin berperan sebagai landasan pembentukan karakter.
Kegiatan ini, sambung Rosdiana, juga merupakan program kerja Pengurus KOHATI HMI Cabang Sumbawa Periode 2015 – 2016.

Baca juga:  Bawaslu Ingatkan Parpol Terkait Pemasangan APK

Untuk menjadi perempuan yang unggul, tentunya diperlukan aktualisasi diri, yakni proses kesadaran untuk merealisasikan nilai-nilai ideal tersebut. Hal tersebut bukan hal yang baru, karena sejarah telah mencatat berulang kali kejayaan suatu bangsa berkat peran dan fungsi perempuan yang ideal di dalamnya.
Pada masa kekinian perkembangan politik,  sosial, ekonomi dan budaya khususnya di Indonesia sudah sangat memperhatinkan. Bahkan, kekhawatiran itu menjadi semakin nyata ketika menjajah pada apa yang dialami oleh setiap warga Negara khususnya kaum perempuan. Salah satunya yakni memudarnya karakter dalam hal memudarnya wawasan keislaman dan keindonesiaan. Ada yang lebih menyedihkan lagi adalah bilamana kita (kaum perempuan) kehilangan wawasan tentang makna hakekat penciptaan perempuan (terutama peran dan fungsi sebagai seorang perempuan).

iklan kampanye

Namun, dalam berbagai dimensi sosial dapat dilihat adanya kesenjangan diskriminasi terhadap hak-hak perempuan. Akibatnya kaum perempuan terdistorsi dalam konteks peran dan fungsi sebagai putri, istri, ibu dan anggota warga masyarakat. Secara perlahan satu-persatu perempuan menanggalkan kemuliaannya. Upaya musuh-musuh Islam dalam menghancurkan negara melalui kaum perempuan semakin merebak saja melalui issu gender, hak asasi, kebebasan, modernisasi, persamaan dan sebagainya. Dimana sebagiannya dimanfaatkan untuk kepentingan ghazwul fikri dan bermuara pada pendangkalan akidah muslimah, sehingga pada akhirnya muslimah kehilangan jati dirinya dan sulit menerapkan nilai-nilai keislaman secara komprehensif. Ini tentu cukup berhasil memperlemah umat Islam sendiri. Hal ini tentu berdasar, apabila kita tengok berbagai kasus yang mencuat belakangan ini seperti : kekerasan fisik, Traficking, eksploitasi perempuan sebagai komoditi seks, dan masih banyak lagi. Untuk itu agar terhindar dari kemerosotan moral tersebut kita (terutama kaum perempuan) dituntut untuk menguasai ilmu agama, ilmu pengetahuan dan teknologi serta keterampilan yang tinggi, selain itu juga perempuan dituntut untuk tampil “indah” dan “elegant” sebagai salah satu konstribusi kita untuk berdakwah ke tengah-tengah masyarakat dengan senantiasa menyadari kodrat kemanusiaannya.

Baca juga:  Suksekan GERTIB ARSIP, Kepala Arsip Nasional Kunjungi Sumbawa

Pada saat yang sama, Erma Suryani selaku ketua panitia menyatakan bahwa KOHATI memiliki fungsi untuk membina kader HMI–wati sesungguhnya bertujuan mulia dengan memicu pengembangan potensi kader menjadi muslimah berkualitas insan cita. Kader HMI–wati disadari memerlukan wadah untuk pengembangan dirinya menambah pengetahuan dan menyalurkan potensinya. sehingga HMI-Wati kelak dapat memainkan perannya  sebagai puteri bagi orang tuanya, isteri bagi suaminya, ibu bagi anaknya kelak, dan anggota masyarakat.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa – Kamaluddin ST.,M.Si yang juga alumni HMI Cabang Malang (Brawijaya) menyatakan bahwa suksesnya suatu daerah tidak lepas dari peran perempuan-perempuan hebat. Kenyataan ini bisa dilihat di Kota Bandung saat ini begitu maju, PAD nya menembus angka belasan Triliyun. Menurutnya, hal tersebut tidak lepas dari peran perempuan dalam menggerakkan sector-sektor penting dalam kepemerintahannya. “Kebetulan Wali Kotanya juga alumni HMI juga,” tandas Kamaluddin.
Ia berharap Kohati atau perempuan-perempuan Sumbawa mampu menjadi bagian dalam memajukan daerah ini.

Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar, M.Pd selaku Stadium General kegiatan tersebut menekankan betapa pentingnya semua pihak terutama pemuda menjaga moral. Pasalnya, ditengah kemajuan jaman, moral sudah tidak dianggap penting, sehingga karakter Islam semakin hari semakin jauh.
“Generasi HMI harus bisa menjadi garda terdepan dalam membentuk karakter-karakter Islam kepada generasi lainnya, agar bangsa ini selamat dan mampu bersaing ditengah dinamika pelik dunia saat ini,” tutup Rektor Universitas Samawa ini. (Heri Kurniawan)

iklan debat