oleh

Andi Rusni : Darah Tidak Dibisniskan

Andi Rusni, SE
Andi Rusni, SE
Wakil Ketua II Bidang Internal Unit Donor Darah (UDD) Sumbawa

Sumbawa Besar, Kabar Sumbawa—Persoalan ketersedian darah seringkali menjadi keluhan keluarga pasien. Dimana ketika pasien membutuhkan tranfusi darah yang sifatnya segera, keluarga pasien dibebankan untuk mencari pendonor yang jumlahnya harus disesuaikan dengan jumlah darah yang dibutuhkan pasien, belum lagi beban biaya yang timbul dari kebutuhan darah tersebut. Sehingga terkesan darah diperjualbelikan

Menanggapi hal itu Wakil Ketua II Bidang Internal Unit Donor Darah (UDD) Sumbawa, Andi Rusni, SE mengatakan,  Tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa darah itu dibisniskan. Kondisi yang sebenarnya terjadi bahwa keluarnya biaya tersebut adalah untuk keperluan screaning, pengambilan darah, biaya kantong, biaya proses  dan lain-lain. Sehingga menimbul kesan darah itu dibisniskan. “Biaya  yang timbul semata-mata untuk keperluan proses darah karena darah tidak pernah diperjualbelikan,” ujar Andis sapaan akrabnya.

iklan kampanye

Dikatakan, untuk penyimpan trombocit dibutuhkan alat yang bernama platelet agitator, dan tahun ini sedang diupayakan untuk pembelian alat tersebut. Sebab Trombosit hanya mampu bertahan selama 5 hari saja dan ada batas waktu kedaluarsanya. Menjadi tugas UDD untuk menyediakan darah yang sehat, efesien dan tepat waktu. “Ketika terjadi persoalan dalam proses pelayanan hal itu akan menjadi bagian dari pengawasan yang kami lakukan.” Kata Andis.

Baca juga:  Asyik Nyabu, Oknum PNS Bandara Disergap Polisi

Ditambahkan, bahwa proses distribusi darah disesuaikan dengan permintaan, jika kalau permintaan darah lengkap maka yang diberikan darah lengkap, jika trombosit yang diberikan juga trombosit. Ironisnya sering ketersediaan darah mengalami kendala klasik, dimana saat terjadi peningkatan permintaan, di sisi lain banyak darah yang dimusnahkan karena kedaluarsa. Sehingga saat banyak kebutuhan maka secara otomatis akan mengalami keterbatasan ketersediaan darah. (KS/YD)