oleh

Mendikbud Sebut Isu Yang Beredar Sangat Berlebihan

Anis Baswedan

Pondok Pesantren Masih Sebagai Tempat Pendidikan Islam.

Sumbawa Besar, Kabar Sumbawa — Dewasa ini Pondok Pesantren seakan di kebirikan dengan citra-citra negative yang di kembangkan oleh berbagai macam opini, mulai dari terorisme, radikalisme, serta beberapa isme-isme lainnya. Tak pelak hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk menghilangkan isu-isu negative tentang Lembaga Pendidikan satu ini. Kaitannya dengan hal tersebut Menteri Pendidikan dan Kebudyaan (Mendikbud) Anies Rasyid Baswedan Ph.D menilai bahwa isu-isu yang ada dan berkembang saat ini mengenai pesantren sangat berlebihan.  Bahkan Ia berpandangan bahwa Pondok Pesantren masih sama seperti pondok pesantren yang sudah lama terbentuk yaitu sebagai Rahmatan Lil Aalamin (rahmat bagi seluruh alam). Artinya bahwa pondok pesantren ini masih sebagai lembaga pendidikan islam, penanaman ideology keislaman dan jauh dari faham-faham radikal. “saya masih berkfikiran bahwa Pondok Pesantren masih memegang teguh nilai yang ada, hanya saja isu yang berlebihan dan berkembang saat ini seakan akan memojokkan Pondok Pesantren, “ ujarnya kepada Wartawan, Selasa (9/2)

Menurut Anis-sapaan akrab Menteri ini, dalam menghadapi isu extremisme dan radikalisme yang di butuhkan hanya sebuah kemampuan untuk berfikir kritis. Pemikiran kritis ini menjadi sebuah benteng untuk menangkal semua ide yang tidak masuk ke akal sehat tidak akan di terima oleh akal. “yang kita butuhkan saat ini sebuah kemampuan untuk berfikir kritis, dalam menangkal semua isme-isme yang tidak sesuai dengan akan sehat kita,”ujarnya, seraya menambahkan, inilah yang harus di tanamkan bukan saja di pendidikan Islam melainkan disemua instansi pendidikan (Sekolah Umum) untuk bisa menanamkan ide gagasan pemikiran kritis tersebut.

Jadi secara tegas dan gamblang Ia menjelaskan untuk menangkal segala isu yang ada, baik itu extremisme, terorisme, dan radikalisme yang di butuhkan hanya sebuah gagasan pemiiran kritis. Dia mencontohkan, apabila seorang anak di tawarkan sebuah pekerjaan ataupun bisnis yang tidak masuk akal akan terpental. “jadi benteng untuk menangkal isu-isu tersebut di butuhkan sebuah pemikiran kritis,” tukasnya.

berita TERKKINI