oleh

Barapan Kebo Turut Meriahkan Festival Moyo 2015

Barapan Kebo juga turut meriahkan Festival Moyo 2015. Sebanyak 704 ekor kerbau barapan meramaikan Lomba Barapan Kebo Festival Moyo 2015 di Kecamatan Maronge, Sabtu (12/9/2015). Ratusan kerbau yang terbagi dalam 352 pasangan ini mengikuti 8 kelas yang diperlombakan. Bagi kerbau yang yang tercepat dan tertepat dalam menyentuh tiang saka (kayu yang dipancangkan) di tengah arena, akan mendapatkan hadiah utama yakni 2 unit hand tractor, serta beberapa barang elektronik. Suara riuh rendah penonton membahana di sisi arena, memberi semangat kepada kerbau idolanya untuk dapat menyentuh saka. Tak jarang kerbau yang sudah berlari lurus ke tiang saka tersebut harus berbelok tanpa sebab yang diakhiri dengan kekecewaan penunggangnya. Konon, kerbau berbuat seperti itu karena diguna-guna. Karenanya sebelum kerbau dilepas masing-masing didampingi para sandro (dukun) sehingga lomba barapan ini boleh dibilang sebagian bernuansa mistis. Perlombaan yang menjadi salah satu keunikan budaya Samawa tersebut diliput langsung belasan jurnalis lokal dan nasional. Mereka tak surut meski percikan lumpur menempel di pakaiannya.
Bupati Sumbawa, Drs. H. Jamaluddin Malik yang membuka perlombaan ini, mengatakan, Barapan Kebo ini menjadi salah satu rangkaian Festival Moyo 2015. Barapan kerbau memang ada di tempat lain namun Barapan Kebo Sumbawa sangat khas dan berbeda. Jika di tempat lain digelar di tanah kering, namun di Sumbawa dilaksanakan di dalam lumpur sehingga ada sensasional bagi penunggangnya terutama saat terjatuh. “Ini yang bisa kita jual sebagai salah satu destinasi wisata, karena dari segi alam kita tidak mungkin bersaing dengan Lombok dan Bali. Tapi yang dicari adalah hal berbeda dengan dua daerah tersebut yang bisa dikemas agar membuat wisatawan tertarik. Adalah adat budaya Samawa yang cukup beragam,” kata JM—sapaan akrab Bupati.
Untuk diketahui ungkap JM, Barapan Kebo tidak sekedar bersifat rekreatif dan berbeda dengan daerah lain, tetapi menjadi salah satu kegiatan yang dapat memotivasi masyarakat. Dengan barapan kerbau, secara tidak langsung mendorong peternak untuk bersungguh-sungguh memelihara ternaknya, agar kuat dan lebih besar dari kerbau Australia. Hal ini akan memberikan nilai tambah bagi peternaknya. Sebab jika dilihat harga kerbau umum rata-rata berkisar Rp 6-12 juta per ekor. Namun kerbau barapan yang sudah bagus harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah bahkan sepasang bisa sampai ratusan juta. “Ini yang kita harapkan selain menjadi potensi pariwisata juga bernilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Sementara Ketua Persatuan Barapan Kerbau Kabupaten Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag menjelaskan, bahwa barapan kebo merupakan budaya yang turun temurun yang digelar sebelum musim tanam sebagai doa agar hasil panennya berlimpah. Selain itu barapan kebo juga dilaksanakan usai panen, sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan masyarakat terhadap hasil pertanian yang telah diperolehnya. Budaya inipun terus berkembang menjadi perlombaan karena keunikannya yaitu mempertandingkan kecepatan dan ketepatan. Selain itu barapan kebo ini juga sebagai cara atau metode dalam menjaga konsistensi pemeliharaan kerbau.
Seharusnya, ungkap Haji Ilham-sapaan pria yang juga Wakil Ketua DPRD Sumbawa ini, barapan kebo menjadi event tetap kalender nasional karena sudah dikenal seantero jagat nusantara dan kerap diliput dan disiarkan oleh media massa cetak maupun elektronik baik dalam maupun luar negeri.
Di bagian lain Haji Ilham menyinggung jumlah kerbau yang ikut dalam event tersebut hampir mencapai 1000 ekor. Artinya, populasi kerbau yang bereda di dalam arena saja sangat banyak. Ini menggambarkan populasi kerbau dari tahun ke tahun kian meningkat, yang ditandai dengan terus bertambahnya jumlah kerbau yang mengikuti Lomba Barapan di setiap event Festival Moyo. “Semoga ke depan hadiahnya semakin besar, agar pesertanya juga semakin banyak dan kegiatannya semakin meriah,” demikian Haji Ilham.

berita TERKKINI