oleh

Menengok Kegiatan Menenun Kain di Dusun Sameri

Sumbawa Besar—Para ibu rumah tangga (IRT) di Dusun Samri Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, memiliki cara tersendiri untuk menambah penghasilan bulanan mereka dengan cara menenun kain tradisional Sumbawa atau yang di dalam bahasa lokal disebut menesek.
Kendati berprofesi sebagai petani, para IRT di Dusun Samri memilih untuk mencari penghasilan tambahan dengan cara menenun kain tradisional khas Sumbawa (Kre’ Alang). Budaya ini sebenarnya sudah turun temurun dilakukan sejak zaman Kesultanan Sumbawa.
Jika dulunya kain hasil kerajinan tangan warga samri hanya digunakan oleh kalangan masyarakat tertentu, kini sebarannya tidak terbatas di kalangan kelas sosial tertentu. Karena tuntutan ekonomi yang membuat pemasaran kain tenun tersebut semakin diperluas.
Namun untuk mendapatkan kain tradisional khas sumbawa hasil tangan warga Samri, calon pembeli harus datang dan melihat langsung prosesnya pembuatannya. Atau hanya dengan memesannya ke agen-agen, karena kain tradisional tersebut tidak diperjual-belikan di toko maupun butik.
Untuk satu kain, dibandrol mulai dari Rp 1.250.000 hingga Rp 1500.000., tidak hanya kain, pengrajin juga memproduksi dan menyediakan sapu’ atau penutup kepala sejenis slayer yang dijual Rp 250.000. Pabasa atau selendang untuk pakaian pria Rp 600.000 dan selendang wanita dibandrol dengan harga Rp 400.000.
Adapun motif yang ada di kain tenun sumbawa cukup variatif. Ada motif Kemang Satange, kemang Galampok, Lonto Engal dan Gili Liuk. Supaya menarik dilihat, para pengrajin menggunakan aneka warna benang. Misalnya hitam dipadukan dengan benang emas, merah, hijau, biru bahkan warna merah jambu.
Pengrajin kain tenun, Syahnim, mengaku cukup terbantu dengan usaha sampingan ini. Mengenai harga kain menurutnya sekarang disesuaikan dengan harga bahan. Kain-kain hasil kerajinan warga samri tersebut kini lebih banyak dipesan oleh kalangan pegawai negeri dan para wisatawan yang secara langsung datang khusus untuk membeli sebagai oleh-oleh.
Sayangnya, akses jalan menuju Dusun Samri hingga kini cukup memprihatinkan. Untuk itu warga pengrajin kain tenun berharap pemerintah memberikan perhatian untuk perbaikan ruas jalan sepanjang 1,6 km tersebut.
“Supaya kain kami bisa cepat terjual dan menambah penghasilan. Agar harga proses produksi kain juga semakin cepat,” harapnya. (KN)

iklan bkbpp

News Feed