oleh

Pakar Kritik Rezim Pemerintahan Jamaluddin Malik

Dr. Azis SR Prof. Sanapiah Faisal

Sumbawa—Dua orang pakar pemerintahan dan sosial asal tana Samawa yang kini malang melintang di perguruan tinggi terkemuka di Pulau Jawa, Dr. Azis SR dan Prof Sanapiah Faisal, mengatasnamakan Gerakan Sosial Sumbawa Bangkit (GSSB), menyampaikan kritikan terhadap rezim pemerintahan Jamaluddin Malik selama 10 tahun terakhir ini.
Kedua orang ini menilai bahwa pemerintahan Jamaluddin Malik selama ini hampir tidak memiliki keberhasilan. Adapun keberhasilan yang selalu diumumkan kepada public setiap tahunnya, tiada lain hanya rutinitas birokrasi yang diharuskan seperti itu, bukan merupakan hasil dari karya rezim yang berkuasa.
Menurut Dr. Azis SR, yang juga seorang pakar politik di Universitas Indonesia, bahwa GSSB tidak ada hubungannya sama sekali dengan bangkit yang lain. Karena GSSB berangkat dari kenyataan di dalam atau selam 15 tahun terakhir.
Dari pandangannya, sejak awal reformasi di Kabupaten Sumbawa, tidak melihat adanya perubahan berarti di pembangunan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Ada tapi kecil-kecil, kalaupun ada perubahan berarti tidak sesuai dengan harapan agenda reformasi. Sehingga dipandang untuk apa mereformasi karena memilih kepala daerah yang langsung dan seterusnya kalau tidak mampu memperoleh kemajuan bagi masyarakat Sumbawa.
“Berangkat dari hal itu, kami ingin dengan beberapa kawan dari Yogya, Bandung, Malang dan lain-lain, untuk mengingatkan kembali seluruh komponen masyarakat untuk bersikap kritis untuk evaluasi Kabupaten. Lalu kita lihat ke depan, bahwa Sumbawa ini mau diapakan, Sumbawa ini punya ptensi luas, tambang, perikanan, pertanian dan wisata yang belum digarap maksimal. Rezim berkuasa 15 tahun terakhir belum bisa berikan kesejahteraan bagi masyarakat, pemerintah daerah masih berpeluang untuk membangun pendidikan yang lebih baik,” paparnya.
Menurutnya, sebetulnya rakyat Sumbawa gregetan atau ngeretan dengan tidak adanya apa-apa. Paling yang bisa dibangun jalan raya dari sini ke situ. Manusianya tidak bisa dibangun, yang menjadi hakekat pembangunan tidak pernah digarap dengan baik, apa persoalannya? Tidak ada sesuatu yang membanggakan sebagai orang Sumbawa.
“Kami melihat ketidakmampuan leadership, pak latif tidak punya legacy, JM tidak punya apa-apa selama pemerintahannya,” kritik pria asal Desa Pungkit Moyo Utara tersebut.
Ke depan sambungnya, ingin melihat Sumbawa yang lebih baik yang dikomandoi oleh orang dengan beberapa kriteria yang bisa membangun Sumbawa yang sudah finish dengan urusan ekonominya, ambisi untuk pencitraan, untuk mensejahterakan keluarga dan kelompok, sudah selesai dengan pencarian nama besar. Menjadi seorang pemimpin sudah selesai dengan urusan pribadi, tidak perlu uang, sudah punya segala macam. Karena ketika orang sudah selesai, dia tidak akan berambisi untuk sesuatu yang tidak pada tempatnya.
Yang kedua, orang yang mampu memutus dirinya dengan masa lalu. Dia tidak boleh menjadi alumni dari masa lalu yang tidak berprestasi. Lihat recordnya, kalau beban masa lalunya berat maka mari melihat lebih jernih lagi.
Yang ketiga, orang yang jelas grand design untuk Sumbawa, yang selama ini memimpin tidak punya grand design untuk Sumbawa ke depan. Kalaupun ada RPJP dan RPJM, itu hanya rutinitas birokrat, bukan dibangun dengan grand design seorang pemimpin. Sumbawa 5-10 tahun ke depan seperti apa? di situ harus punya peta jalan.
Ia mencontohnya, beberapa Kepala Daerah yang bagus, seperti Bandung, Surabaya, Banyuwangi dan Bantaeng. Sehingga mereka tatak dan pasti dilakukan. Tentu akan ada kekurangan tapi tidak apa-apa karena jelas yang ingin dibangun berdasarkan hasil studi dan kajian.
“Kita tidak punya seperti itu selama ini. Ke depan kita harus tagih orang yang akan tampil, mana grand designnya ke depan. Kalau mau maju sebagai calon, visi misinya serahkan ke KPU lalu jadikan program kerja. Selama in mereka hanya menjual tagline, hanya membuat orang enak memandangnya. Itu tidak ada artinya sama sekali. Kita berharap ke depan muncul orang yang setidak-tidaknya punya 3 kriteria tersebut,” ungkap Azis.
Prof Sanapiah Faisal, menyentil dunia pendidikan di Sumbawa. Dia sudah sangat lama mengatakan bahwa pembangunan itu asal katanya “Bangun”, bukan dari asal kata “Bangunan”. Kalau “Bangunan” ya jalan dan jembatan. Kalau “Bangun”, ya orang atau masyarakat sebagai entitas.
“Kalau semakin kokoh dan bergairah ya Bangun. Kita di Sumbawa, masyarakatnya bangun tidak? Saya berkesimpulan masyarakat kita sudah sakit yang menghajatkan uluran tangan dari ahli untuk sehat dan keluar dari sakitnya,” ujar Sanapiah.
Ia mengaku kagum di satu sisi dengan Doktor Zulklieflimansyah yang bisa membawa kue pembangunan di Sumbawa. Tapi di sisi lain saya sedih dengan situasi ini. Karena ia berpikir bagaimana masyarakat Sumbawa bisa Bangun. Seperti Singapore, mereka bersolek dari hari ke hari.
“Kita berharap begitu, tahun lalu saya ke Sumbawa bisa berubah dengan kedatangan tahun ini.
Kita ingin menggagas GSSB, agar yang hebat tidak sekedar lebah Sumbawa, tapi orangnya hebat mengeluarkan design yang hebat,” ungkapnya. (KN)

iklan debat
Baca juga:  Teluk Saleh Rawan Pengeboman Dan Potasium