oleh

Aksi Corat Coret dan Konvoi Motor Warnai Kelulusan SMA Sederajat di Sumbawa

Sumbawa—Sudah menjadi budaya di kalangan para pelajar SMA ketika menerima pengumuman kelulusan yang melampiaskan kegembiraannya dengan cara berkonvoi kendaraan dan saling coret seragam sekolah. Fenomena negative tersebut mendapat sorotan dan kritikan dari Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Sumbawa.

Dalam aksi konvoinya, para pelajar seolah tidak mempedulikan para pengendara dan pengguna jalan lainnya. Mereka dengan bangga menggeber gas sepeda motor sambil berteriak berkeliling ke setiap sudut kota Sumbawa Besar. Seperti yang dilakukan oleh para pelajar SMKN 2 Sumbawa yang memulai aksinya di perempatan jalan negara yang tidak jauh dari sekolah mereka.

Tindakan para pelajar ini kemudian mendapat sorotan sekaligus kritikan dari pihak Diknas Sumbawa melalui Kepala Seksi Kurikulum, Bidang Pendidikan Menengah, Shalahuddin.

Menurut Kak Bho akrap pria ini disapa, bahwa pihaknya tidak mengetahui secara pasti apa yang menjadi dasar tindakan para pelajar sehingga berbuat seperti itu.

“Saya tidak tahu, anak-anak ini dasarnya apa. Karena ini bukan budaya kita Tau Samawa, tapi ini mungkin pengaruh media melihat di tv dan medsos. Sehingga mereka ikut-ikutan padahal mereka sendiri tidak tahu maknanya,” ujar Kak Bho.

Menurutnya, belum tentu yang berkonvoi ria tersebut telah mendapatkan nilai yang bagus. Padahal untuk melampiaskan kegembiraan bisa dilakukan dengan banyak hal. Contohnya mereka satu kelas mendatangi panti asuhan untuk menyerahkan sekedar cinderamata.

Di sekolah lain ujarnya, ketika pengumuman kelulusan para pelajar langsung ke pantai dengan membawa tas keresek untuk mengumpulkan sampah, menjaga kebersihan lingkungan. Karena dengan konvoi, selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan orang lain. Sehingga bukan simpati yang mereka dapatkan di jalan tapi antipasti.

Diknas tegas Kak Bho sebenarnya telah mengimbau para pelajar melalui ajang perpisahan yang telah digelar oleh semua SMA belum lama ini.

“Kami sudah mengimbau di beberapa sekolah ketika perpisahan untuk jangan melakukan konvoi dan corat coret pakaian. Kenapa mereka tidak menyumbangkan saja ke panti asuhan atau memberikan pakaian ke adik-adik kelasnya, itu jauh lebih baik dan bermakna,” pungkasnya. (KN)

News Feed