Rekalkulasi Bunga Kredit BRI Dinilai Mengada-ada

ilstrasi kridit BRISumbawa Besar, Sejumlah nasabah BRI Cabang Sumbawa mengeluhkan adanya kebijakan rekalkulasi bunga kredit yang harus mereka bayar saat mengajukan pelunasan maju atau pelunasan sebelum berakhirnya masa kredit. Selain menilai kebijakan itu mendadak, mereka juga menganggap rekalkulasi bunga itu tidak termasuk dalam akad kredit yang ditandatangani saat pengajuan kredit sebelumnya. Wajar jika nasabah terkaget-kaget menerima kebijakan yang dianggap sepihak ini.

Salah satunya dialami MT– nasabah BRI Unit Sumbawa Kota II. Sebelumnya MT mengaku banyak menerima keluhan dari guru dan PNS terkait adanya rekalkulasi bunga yang diterapkan BRI sebagai kebijakan barunya. Hal ini memunculkan keinginannya untuk membuktikan kebenaran tersebut karena dia juga adalah kreditur BRI sejak Agustus 2011 lalu dengan pinjaman sebesar Rp 75 juta yang diangsur selama 96 bulan atau 8 tahun. Setiap bulan dia diwajibkan membayar cicilan pokok Rp 781.300, ditambah bunga Rp 750.000 sehingga totalnya Rp 1.531.300 setiap bulan. Untuk membuktikannya, MT pun ingin menutup cicilan pinjaman yang sudah terbayar selama 37 bulan atau Rp 56.658.100. “Saya datang menutup pinjaman 29 September 2014 kemarin,” kata MT.

Saat menutup pinjaman, pihak bank mewajibkannya melunasi sebesar Rp 58.825.531 dengan detail rincian (payoff details) sisa pokok Rp 46.095.600, bunga berjalan Rp 375.000, dan rekalkulasi bunga Rp 12.354.931. Yang menjadi tanda tanya adalah rekalkulasi bunga yang cukup besar, padahal biasanya ketika nasabah menutup kredit di tengah jalan (pelunasan maju) hanya diwajibkan membayar bunga selama 2—3 bulan. MT mengaku sempat mempertanyakan cara perhitungan (rumus) rekalkulasi bunga itu. Namun petugas bank tersebut tidak dapat memberikan jawaban hanya beralasan bahwa angka yang tertera di payoff details sudah tersistem dari pusat. “Ini kan tidak transparan, harusnya mereka bisa menjelaskan. Jadi wajar kami mencurigai ada apa-apanya,” ujar MT.

Jika ini kebijakan baru, lanjutnya, seharusnya tidak diberlakukan kepada para nasabah yang sudah menjadi kreditur sebelum adanya kebijakan tersebut. Apalagi saat melakukan pinjaman, sudah ada akad kredit antara nasabah dan pihak bank. “Jika ada aturan baru yang diberlakukan kepada kami, harusnya akad yang ada disegarkan kembali, tentunya melibatkan kami,” sesalnya.

Anis Abdul Hakim, Pinca BRI Sumbawa

Sementara Pimpinan BRI Cabang Sumbawa, Anis Abdul Hakim yang ditemui Selasa (14/10) mengakui terhitung sejak 1 Oktober 2013 lalu, BRI menerapkan aturan baru mengenai ketentuan pelunasan maju untuk kredit dengan perhitungan bunga flat yang berlaku untuk nasabah di seluruh Indonesia. Diberlakukannya ketentuan pelunasan maju ini kata Anis—akrab pria ramah ini disapa, mengacu pada ketentuan Bank Indonesia bahwa pencatatan akuntansi harus sesuai dengan PSAK (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan) 50/55. “Aturan ini juga berlaku untuk seluruh bank di Indonesia,” jelasnya.

Secara ilustrasi, Ia memberikan contoh kasus, nasabah A memiliki pinjaman sebesar Rp 100 juta jangka waktu pinjaman selama 36 bulan (3 tahun) dengan suku bunga yang berlaku 1 persen flat per bulan atau 12 persen per tahun. Cicilan per bulan yang dibayar oleh nasabah sebesar Rp 3.777.778 dengan rincian angsuran pokok sebesar Rp 2.777.778 dan angsuran bunga Rp 1 juta. Sebelum dan sesudah diberlakukannya kebijakan ini angsuran per bulannya sama. Hanya bedanya terletak pada pencatatan jumlah angsuran pokok dan jumlah angsuran bunga, tapi jika dikalkulasikan totalnya sama yakni Rp 3.777.778. Perbedaan inilah

yang disebut rekalkulasi. Jika nasabah melakukan pelunasan maju di tengah masa pinjaman maka akan terjadi rekalkulasi atau perhitungan ulang. Sebagai contoh, jika nasabah melakukan pelunasan maju di bulan ke 25 total angsuran bunga yang dibayarkan kepada bank adalah sebesar Rp 25 juta, sedangkan menurut PSAK 50/55, bunga yang seharusnya tercatat adalah Rp 31.912.553, sehingga dari perhitungan tersebut terdapat kekurangan bunga yang harus dibayarkan nasabah. “Kekurangan bunga yang harus dibayar nasabah ini saat pelunasan sebesar Rp 6.912.553. Jadi jika nasabah itu akan melakukan pelunasan maju biaya yang harus dikeluarkan yaitu sisa pokok pinjaman sebesar Rp 30.555.556 ditambah dengan kekurangan bunga atau rekalkulasi Rp 6.912.553, sehingga pelunasan maju yang harus dibayar mencapai 37.468.109. Perhitungan kembali ini dilakukan oleh system BRI,” paparnya.

Perhitungan rekalkulasi bunga kredit ini tambahnya, menggunakan kurva gunung. Ketika pelunasan maju dilakukan dari bulan-bulan awal atau akhir, rekalkulasi bunganya semakin kecil. Tapi ketika semakin ke tengah (dimisalkan puncak gunung), maka rekalkulasinya semakin besar.

Namun ketika dilunasi secara normal sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan misalnya 36 bulan, tidak ada perbedaan ada dan tidaknya kebijakan baru itu karena jumlah total akhirnya yang dibayar tetap sama.

Di bagian lain Anis membantah pihaknya tidak transparan soal cara perhitungan rekalkulasi bunga sebagaimana keluhan nasabah. Pihaknya bersedia memberikan penjelasan kepada nasabah di setiap kesempatan, sehingga memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai kebijakan tersebut. “Kami juga sudah mengundang nasabah bersangkutan (MT) untuk memberikan penjelasan, tapi belum sempat hadir karena masih berada di luar daerah,” ujarnya, seraya menambahkan ke depan sosialisasi kebijakan ini akan lebih diintensifkan melalui seluruh unit kerja BRI.

Kemudian soal akad kredit yang dianggap tidak mencantumkan adanya kebijakan baru itu, menurut Anis, semua sudah diatur. Dalam Surat Pengakuan Hutang (SPH) yang ditandatangani seluruh kreditur BRI terutama pasal 8 ayat (1) ungkap Anis, intinya menyatakan bahwa nasabah tunduk kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan atau yang kemudian akan ditetapkan oleh bank terutama mengenai kebijakan pemberian pinjaman. “Biasanya nasabah jarang membaca atau mau dibacakan akad kredit ini,” akunya.

Apa yang telah diterapkan BRI semua sudah sesuai prosedur dan aturan yang berlaku. Dan BRI selalu mengedepankan pelayanan prima demi menjaga hubungan baik dengan nasabahnya.

Komentar

News Feed