oleh

Mengenal Kerbau Sumbawa

KabarSumbawa.com – Kerbau Sumbawa merupakan salah satu komoditi peternakan yang keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sumbawa, baik dalam perannya sebagai sumber pendapatan yang mendukung perekonomian keluarga maupun pada tatanan sosial budaya. Dengan kepemilikan ternak kerbau, masyarakat Sumbawa sudah dapat mempergunakan untuk ongkos naik haji, menyekolahkan anaknya, kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakat dan kebutuhan lainnya. Untuk mengenal kerbau Sumbawa lebih dekat akan diuraikan dibawah ini :

  • Asal Usul Kerbau Sumbawa

Kerbau (Bubalus) adalah jenis ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi besar dalam penyediaan daging dan dan merupakan ternak asli daerah panas dan lembab khususnya daerah belahan utara tropika. Menurut Yani M (2013) menyatakan, bahwa dalam penggolongannya kerbau dibagi menjadi 4 (empat) golongan yaitu : a). Anoa (Bubalus Depresicronis), b). Borneo Buffalo (Buballus Arneehosei), c). Kerbau (Banteng Delhi) dan d). Bos Arni adalah kerbau yang terdapat di Asia Tenggara dan hampir identik dengan kerbau lumpur dan merupakan keturunannya.

iklan kampanye

Bos Arni atau kerbau lumpur ini dapat ditemukan didaerah-daerah Pakistan, India, Bangladeh, Nepal, Buthan, Vietnam, Cina, Filipina, Taiwan, Thailand dan juga Indonesia. Bahkan ternak kerbau ini menyebar dan berkembang sampai di Eropa dan Afrika serta Australia.

  • Taxonomy Kerbau Sumbawa

Sistematika kerbau yaitu :

Filum : Chordate,

Kelas : Mamalia,

Ordo : Artiodactyla,

Famili : Bividae,

Sub famili : Bovinae,

Genus : Bubalus dan spesis : Bubalus Bubalis serta

Galur/rumpun : Kerbau Sumbawa.

Adapun ciri-ciri dari kerbau Sumbawa sebagai berikut : warna tubuh dan kepala dominan abu-abu sampai hitam, warna rambut kemerahan sampai abu-abu gelap, warna tanduk bening kekuningan sampai hitam, bentuk tubuh kompak, dengan kaki relatif agak pendek, tanduk jantan dan betina bertanduk besar melengkung kearah samping dan ke belakang.

  • Rumpun Kerbau Sumbawa

Kerbau Sumbawa termasuk dalam tipe kerbau lumpur (Bubalus Bubalis). Bagi masyarakat Sumbawa kerbau Sumbawa merupakan ternak penghasil daging sebagai sumber protein hewani, juga menghasilkan susu untuk kebutuhan masyarakat Sumbawa. Kerbau Sumbawa bagi masyarakat Sumbawa merupakan lambang prestise (socialprestige) dan bukti tingkat kesejahteraan. Dimana kepemiliki ternak kerbau dalam jumlah besar, dimana terendah 8 – 12 ekor per peternak dan bahkan sampai lebih dari 400 ekor per peternak.

Baca juga:  Festival Moyo 2014 Ditutup 600 Peniup Serunai

Untuk melestarikan dan menjadikan kerbau Sumbawa sebagai rumpun dengan sumberdaya genetik spesifik ternak lokal, maka kerbau Sumbawa dijadikan sebagai salah satu bangsa atau sub bangsa kerbau Indonesia yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian RI No. 2910/Kpts/OT.140/6/2011 tentang Rumpun Kerbau Sumbawa.

  • Pola Pemeliharaan

Tata laksana pemeliharaan ternak khususnya kerbau di Sumbawa pada umumnya dilakukan secara ekstensif tradisional, yaitu dilepas pada suatu kawasan padangan (LAR sebutan masyarakat Sumbawa) atau lahan persawahan setelah petani memanen hasil sawahnya. Dimana pertumbuhan dan perkembangannya sepenuhnya diserahkan pada kondisi alam.

Pola pemeliharaan ini dapat berhasil karena kondisi kerbau  Sumbawa yang mempunyai tingkat adaptasi terhadap lingkungan dengan keterbatasan ketersediaan pakan cukup tinggi.

  • Populasi Kerbau Sumbawa

Populasi kerbau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2013 mencapai 114.261 ekor, dan penyebarannya 35,11% berada di Kabupaten Sumbawa yaitu 50.643 ekor. Populasi kerbau Sumbawa di kabupaten Sumbawa cenderung menurun, misalnya pada tahun 2007 mencapai 64.346 ekor turun menjadi 50.643 ekor pad tahun 2013. Kondisi ini disebabkan oleh pola pemeliharaan yang bersifat tradisional dan perkembangbiakan secara genetik cenderung lama.

  • Kerbau Sumbawa Sebagai Komoditi Perdagangan

Kerbau Sumbawa yang keberadaannya dan berkembang serta dijadikan komoditas eksport tercatat sejak tahun 1890 sampai dengan 1950-an. Pengiriman ternak ke luar negeri ini ditujukan kepada Negara-negara seperti hongkong, Singapore dan Malaysia serta Negara asia lainnya. Dengan adanya eksport ternak kerbau ini sangat memberikan kontribusi yang positif, baik masyarakat dan daerah Sumbawa maupun bangsa Indonesia.

  • Kerbau Sumbawa sebagai Komoditi Hasil Olahan dan pariwisata

Selain ternak hidup yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Sumbawa, hasil olahan juga memberikan kontribusi yang cukup menjanjikan seperti daging dapat dijadikan abon dan dendeng, produksi susu dapat olah menjadi permen susu, serta tanduk dapat dijadikan olahan untuk souvenir. Selain itu kotoran ternak kerbau juga dapat dijadikan pupuk organik dan sumber energi alternatif (biogas).

Baca juga:  Jamhur Husain Segera Bentuk Kepengurusan SMSI Sumbawa

Kerbau selain dapat dijual hidup, diolah, juga dapat dimanfaatkan sebagai penarik wisatawan lokal dan mancanegara dengan barapan kebo (karapan kerbau) dan kebo nange (kerbau berenang).

Keberadaan barapan kebo (karapan kerbau) selain untuk meningkatkan pariwisata di Sumbawa, juga memberikan dampak positif bagi pemilik ternak itu sendiri yaitu meningkatkan prestise atau derajat sosial kemasyarakatan, dan apabila mendapat juara akan meningkatkan nilai jual ternak yang sangat tinggi mencapai lebih dari 3 (tiga) kali lipat dari harga sebenarnya.

Berdasarkan pernyataan tersebut diatas, bahwa peran dan fungsi kerbau Sumbawa sangat penting dan strategis dalam kehidupan masyarakat Sumbawa, yaitu untuk keperluan acara adat istiadat, perkawinan, hewan qurban. Selain itu juga berpengaruh pada peningkatan perekonomian masyarakat seperti untuk keperluan sekolah anak, naik haji, dan juga tabungan kebutuhan mendesak. Serta juga berpengaruh pada perkembangan daerah seperti peningkatan potensi wisata, dan peningkatan penerimaan daerah dengan pengiriman ternak ke luar daerah maupun luar negeri (eksport).

Namun terdapat kendala yang cukup besar yaitu keberadaan populasi ternak kerbau mengalami penurunan rata-rata 2-3% per tahun, sebagai akibat dari menyempitnya lahan kawasan pengembangan peternakan, juga diakibatkan oleh bergesernya pemilihan ternak peliharaan dari kerbau ke sapi yang dianggap lebih cepat proses perkembangannya, serta adanya pengeluaran ternak secara ilegal.

Oleh karena itu pemerintah berupaya melalui berbagai program dan terobosan baru untuk meningkatkan produksi dan produktifitas ternak kerbau Sumbawa, diantaranya : pembangunan UPTD perbibitan ternak kerbau Sumbawa bersinergi, penguatan pembibitan ternak kerbau, adanya Sekolah Peternakan Rakyat (SPR), dan lain sebagainya.