oleh

Lumpuh Total, 10 Tahun Tak Digaji dan Dituduh Illegal

Sumbawa Besar, kabarsumbawa.com–Mantan buruh migran atau tenaga kerja wanita (TKW) Nuraini (31) asal RT 03 RW 02 Dusun Pungkit B Desa Pungkit Kecamatan Moyo Utara, Sumbawa, NTB, pulang dengan kondisi cacat. Selain cacat, selama 10 tahun bekerja ia tidak mendapatkan gaji sepeserpun dari majikan di tanah Arab.

TKW yang diberangkatkan oleh PT Alfindo Mas Buana pada 2003 tersebut bekerja di dua majikan. Majikan pertama bernama Nasee Fatd Al-Dhosiri Al-Dahar di Kuwait dan majikan kedua bekerja di majikan yang berprofesi sebagai polisi di Kuwait bernama Sanian Sulaiman San San. Ia diberangkatkan ke Kuwait pada 24 Desember 2003 dan bekerja di majikan pertama selama 6 bulan. Hanya gaji bulan pertama yang sempat ia kirim ke keluarga di Sumbawa. Dalam kurun waktu 6 bulan tersebut Nuraini masih dalam kondisi baik-baik saja dan tetap berkomunikasi dengan keluarga.

iklan

Sayangnya, setelah berpindah majikan kedualah ia mengalami kekerasan. Bahkan gaji selama 10 tahun 2 bulan tidak dibayarkan kepadanya. Bentuk kekerasan yang ia alami berupa penyiksaan dan didorong dari lantai dua. Tidak sekedar itu, ia pun dilarang berkomunikasi dengan keluarga di tanah air.

Sementara di Sumbawa, keluarga Nuraini kebingungan dengan kondisi Nuraini di Kuwait. Sehingga keluarga melaporkan hal tersebut ke Disnakertrans Sumbawa, meminta pertanggungjawaban PPTKIS yang memberangkatkan Nuraini untuk melacak keberadannya. Tapi upaya itu tidak membuahkan hasil.

Sekitar akhir Januari 2014, Nuraini tiba di Indonesia melalui bandara Soekarno Hatta. Itupun dengan bantuan teman sesama TKW asal Sumbawa yang merasa perihatin dengan kondisi Nuraini. Saat itu, ia sempat ditanyakan oleh petugas di Bandara menuju pintu empat. Ia pun disarankan oleh polisi Bandara agar dirawat ke rumah sakit Polri Keramat Jati. Namun Nuraini menolak dengan terus menangis meminta diantarkan pulang ke Sumbawa dengan kondisi sok berat. Melihat hal itu, akhirnya rekan sesama TKW terpaksa menandatangani pernyataan untuk mengantarkan Nuraini hingga di kediamannya di Dusun Pungkit B Desa Pungkit, Moyo Utara.

Baca juga:  Sekda Gerah Serapan Anggaran Hanya Mencapai 4,5 Persen

Sabtu (01/02/2014), akhirnya Nuraini tiba di tanah kelahirannya diantar oleh rekannya Suriya yang juga warga Kecamatan Moyo Utara, dan Sumarni asal Seteluk, Sumbawa Barat.

Setiba di rumahnya, Nuraini pun diketahui telah mengalami kelumpuhan total dengan luka disekujur tubuhnya. Di bagian punggung terdapat lubang dan luka-luka lainnya yang sangat parah. Kondisi kejiwaan Nuraini nampak sangat terguncang. Bila keluarga atau kerabat mempertanyakan kejadian yang menimpanya itu, membuatnya sok berat. Ia hanya bisa menangis dan tidak bisa memberikan keterangan apapun.

Akhirnya pada Selasa (04/02/2014), ia dibawa ke Puskesmas Moyo Utara untuk mendapatkan perawatan dan penanganan medis, selanjutnya dirujuk ke RSUD Sumbawa untuk penanganan lebih lanjut. Sayangnya, RSUD Sumbawa tidak mampu melayani pengembalian kondisi Nuraini secara maksimal lantaran minimnya fasilitas medis.

Sayangnya, ketika Kasubbid Pemulangan TKI BPN2TKI, Budiman Pasaribu, mengunjungi Nuraini di RSUD Sumbawa, Rabu (12/02/2014), ia malah dicap sebagai TKW Illegal. Sebab masa kerja Nuraini telah melebihi batas yang ditentukan yakni maksimal 2 tahun kerja.

Kehadiran BNP2TKI hanya memastikan dan mengklarifikasi bahwa BNP2TKI telah memeriksa dan berupaya melakukan penanganan medis bagi Nuraini ketika berada di Bandara Soekarno Hatta. Namun karena keiginan TKW yang meminta dipulangkan ke keluarganya, akhirnya petugas memberikan ijin dengan cara membuat pernyataan pulang paksa.

“Kedatangan kami hanya untuk mengklarifikasi kondisi TKW. Kami tidak punya kewenangan untuk lebih dari ini. Silahkan nanti Pemda setempat memikirkan biaya pengobatannya,” jelas Budiman.

Ia menambahkan, bahwa upaya selanjutnya tergantung Pemda Sumbawa untuk membantu Nuraini. Mengenai gaji yang tidak dibayar majikan meski Nuraini selalu menandatangani slip gaji bulanan, menurutnya keluarga silahkan membuat pengaduan ditujukan kepada BNP2TKI agar dapat ditindaklanjuti hingga Kementerian Luar Negeri dan KJRI di Kuwait.

Melihat kondisi fisik Nuraini yang kian hari semakin memburuk, dokter bedah RSUD Sumbawa, dr. Putu Winata, menyarankan supaya pasiennya segera dirujuk ke rumah sakit kelas A untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih baik. Sebab dengan kondisi RSUD Sumbawa yang masih kelas 3 seperti ini tidak memungkinkan secara fasilitas untuk mengembalikan kondisi Nuraini.

Baca juga:  Asyik Nyabu, Oknum PNS Bandara Disergap Polisi

Ia mengkonfirmasi, bahwa berdasarkan hasil anamnesi atau diagnosa awal terhadap pasien, diketahui bahwa pihaknya mendapatkan cedera parah di bagian pangkal paha pasien yang didasari oleh hasil rontgen terhadap fisik pasien. Bahkan yang kini berpotensi menjadi infeksi di bagian dada pasien.

“Memang harus segera ditindaklanjuti. Sekarang paru-parunya kena lagi infeksi paru,” ujar Winata di hadapan keluarga TKW, Kadisnakertrans Sumbawa, perwakilan BNP2TKI dan pendamping TKW dalam hal ini SBMI Sumbawa.

Koordinator Serikat Buruh Migran (SBMI) Sumbawa, Syamsuddin, kepada wartawan, menegaskan, bahwa terlepas dari status Nuraini sebagai TKW illegal atau legal di mata pemerintah, yang jelas Pemda, Pemprop dan Negara memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan WNI apalagi yang dimaksud adalah pahlawan devisa.

“BNP2TKI  jangan hanya membela diri. Mestinya mereka berpihak kepada Nuraini. Begitu juga dengan Pemda Sumbawa maupun Pemprop NTB. Karena bila tidak mau ikut bertanggung jawab maka percuma saja ada pengharagaan Presiden kepada Gubernur NTB terkait perlindungan TKI di luar negeri,” tandas Syamsuddin.

Ia menambahkan, dengan kondisi Nuraini yang seperti ini, apakah pemerintah hanya melihat-lihat saja. Harus ada langkah nyata untuk merawat Nuraini ke rumah sakit kelas A , mengingat penyakitnya yang sangat parah.

Menyangkut hak-hak TKW yang belum terpenuhi, menurut Syamsuddin, pemerintah harus memperjuangkannya, sebab selama bekerja di majikan kedua ia tidak pernah menerima gaji walaupun setiap bulan menandatangani slip gaji. Demikian juga dengan asuransi selama ia bekerja secara resmi.(*)